Menginap 3 Hari di Lereng Wilis, Mahasiswa Sosiologi Agama UIN SATU Potret Harmonisasi Keagamaan di Desa Geger

Kontributor:

TULUNGAGUNG – Di balik suksesnya acara puncak Studi Lapangan Prodi Sosiologi Agama (SA) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, terdapat cerita perjuangan akademis yang panjang dan humanis. Selama tiga hari penuh, sejak Senin hingga Rabu (6–8 Juli 2026), sebanyak 16 mahasiswa didampingi oleh 4 dosen pembimbing menetap langsung di posko Desa Geger, Kecamatan Sendang, untuk melakukan pemetaan sosial dan finalisasi penelitian mendalam.

Nyatanya, riset mengenai laboratorium sosial yang sangat unik di lereng Gunung Wilis ini tidaklah instan. Di bawah pendampingan intensif Koordinator Prodi SA, Dr. Refki Rusyadi., S. S., M. Pd. I., tim dosen dan mahasiswa ternyata telah mencicil penelitian ini sejak dua bulan lalu, yang meliputi tahapan survei awal hingga proses kepenulisan draf yang akhirnya sukses dideklarasikan pada hari penutupan.

Untuk memaksimalkan kinerja lapangan, 16 mahasiswa tersebut dibagi ke dalam manajemen tim yang sistematis. Tim tersebut meliputi Tim Riset yang berfokus pada penggalian data sosiologis, Tim Pemetaan untuk memetakan wilayah dan sosial, Tim Publikasi, Dokumentasi, dan Dekorasi (PDD), serta Tim Kesekretariatan acara yang digawangi oleh salah satu mahasiswa, Vania.

Selama berada di posko pendampingan, para mahasiswa tidak hanya langsung terjun ke lapangan, tetapi juga mendapatkan pembekalan materi yang matang. Tim SA menghadirkan Cahyo Budiman, S.Sos., M.Si., seorang guru Sosiologi sekaligus pakar di bidang Metodologi Penelitian (Metopen) dari salah satu SMA di Kalidawir. Di dalam posko, beliau memberikan pengarahan taktis mengenai teknik pengambilan data lapangan, melakukan wawancara yang efektif, hingga mengolah data secara kuantitatif deskriptif agar hasil riset yang disajikan valid dan akurat.

Kerja keras selama dua bulan tersebut akhirnya berbuah manis melalui rilis data riset yang dipaparkan pada hari terakhir. Tim Sosiologi Agama berhasil memotret realitas keberagamaan Desa Geger yang sangat kaya dan toleran. Meski secara administratif mayoritas penduduk memiliki identitas kartu tanda penduduk (KTP) Islam, namun dalam praktiknya kehidupan spiritual masyarakat di sana sangat diwarnai oleh nilai-nilai luhur budaya lokal.

Tim menemukan bahwa keberadaan 8 masjid, 20 musala, dan 4 gereja dapat berdiri berdampingan secara damai. Keharmonisan ini semakin diperkaya dengan eksistensi para penganut Penghayat dan Aliran Kepercayaan yang tetap lestari serta dihormati oleh warga, seperti penganut Kejawen, Sapta Dharma, Penghayat Perjalanan, Sejati, hingga Kapitayan. Ketiadaan sekte ekstremisme ini membuktikan kuatnya benteng kultural masyarakat pegunungan dalam merawat kebinekaan.

Pengalaman berharga ini meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa yang terlibat langsung. Vania, selaku perwakilan Tim Kesekretariatan, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya bisa menjadi bagian dari program perdana yang diinisiasi oleh Prodi Sosiologi Agama ini.

“Saya sangat senang sekali terlibat di acara ini. Pertama, kami diberikan pengalaman langsung untuk meng-handle acara besar. Kedua, ini adalah program pertama yang diadakan oleh prodi SA. Alhamdulillah, kami bisa dekat dengan masyarakat, menerapkan teori yang didapat di dalam kelas, serta mengetahui langsung bagaimana perspektif masyarakat di lapangan. Kami jadi tahu bagaimana indahnya kehidupan masyarakat desa yang tetap harmonis dalam keberagaman. Kalau bisa, rasanya ingin di-extend (diperpanjang) sampai satu minggu di sini,” ujar Vania sembari tertawa bahagia saat diwawancarai.

Melalui pendekatan riset live-in yang membumi ini, Prodi Sosiologi Agama UIN SATU Tulungagung tidak hanya berhasil melahirkan karya akademik yang valid, tetapi juga berhasil mencetak agen-agen muda yang peka terhadap toleransi dan realitas sosial di tengah masyarakat.

Penulis: Friska Novi Rahmadani

Skip to content