CATATAN ABAHNYA FUAD…
Sesuai Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker), Jurusan Ushuluddin IAIN Tulungagung beralih nama menjadi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD). Andai saja setelah kata “Dakwah” ada kata “Islam,” tentu singkatannya FUADI. Siapa yang menetapkan Ortaker? Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenpan). Kok bisa Kemenpan begitu rupa mengalih nama dari Ushuluddin “saja” menjadi Ushuluddin, Adab dan Dakwah? Dugaan kasar saya, “beberapa orang” di Kemenpan yang menangani Ortaker berkonsultasi ke “beberapa orang” di Kementerian Agama (Kemenag) yang punya wewenang atau jelajah-kerja di bidang Perguruan Tinggi Islam, terutama yang terkait dengan pemetaan Fakultas dan Jurusan. Namanya dugaan, tidak bisa dipegang, tidak untuk dikembangkan. Bahkan kata al-Qur`an, banyak dari dugaan dosa belaka.
Nyatanya kini Jurusan Ushuluddin IAIN Tulungagung sudah sah menjadi FUAD. Hingga di sini beberapa poin patut dikupas:
Pertama, seperti terbaca, FUAD merangkum, menaungi, atau lebih praktisnya mengelola tiga bidang keilmuan: Keushuluddinan, Keadaban, dan Kedakwahan. Sejauh ini, di beberapa IAIN dan Sekolah Tinggi Islam, jika Ushuluddin tidak sendiri, maka gandengannya umumnya Dakwah. Secara rumpun, antara Ushuluddin dan Dakwah memang “tidak jauh-jauh amat.” Lha ini tiba-tiba Adab “ikut-ikutan”. Lagi-lagi dugaan, Adab dicangkokkan ke Ushuluddin dan Dakwah dalam rangka mendongkrak jumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Bukan rahasia, selama ini Ushuluddin dan Dakwah merupakan Fakultas yang paling minim diminati oleh para calon mahasiswa baru PTAI. Di saat sama, peminat Adab juga tidak terbilang bagus dibanding Fakultas atau Jurusan lainnya. Harapannya: merger dari tiga Fakultas atau Jurusan langka peminat menghasilkan satu Fakultas yang mahasiswanya “lumayan” banyak. Rumusan kasarnya: Sedikit tambah sedikit tambah sedikit jadi lumayan banyak.
Kedua, dibanding Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK), jumlah mahasiswa FUAD tentu tak seberapa. Hanya saja, mengelola Fakultas bukan melulu mengurus mahasiswa dalam arti orang perorangnya. Lebih dari itu, mengelola Fakultas berarti merumuskan distingsi setiap Prodi yang dikelola yang kemudian tercermin dalam visi dan misi, merumuskan pola-relasi antar-Prodi, menyiapkan kurikulum berikut sebarannya, memperkuat argumen mata-kuliah yang ditawarkan dengan deskripsi mata-kuliah, menyiapkan perangkat kurikulum serupa sibalus, dan lain semacamnya.
Ketiga, seperti telah disinggung, FUAD terdiri dari tiga ranah keilmuan: Ushuluddin, Adab dan Dakwah. Maka tugas para pengelola FUAD adalah membuat jembatan penghubung antara ketiga ranah tersebut, sehingga “Ushuluddin, Adab dan Dakwah” terlihat sebagai satu-kesatuan utuh. Sebuah tugas berat memang. Bayangkan, bagaimana menjalin atau mencari titik-titik temu antara Ushuluddin dan Adab; yang satu ranah pemikiran sedang satunya ranah sastra, antara Adab dan Dakwah; yang satu ranah sastra dan satunya ranah praksis-keagamaan. Tegasnya, para punggawa FUAD bakal punya gawe berat plus besar.
Keempat, sesuai harapan Rektor IAIN Tulungagung, mergernya Adab dan Dakwah ke Ushuluddin itu sifatnya hanya sementara. Dua tahun ke depan, tegas Rektor, ketiganya harus “cerai”. “Perceraian” itu, dalam bayangan Pak Rektor seiring dengan alih-statusnya IAIN Tulungagung menjadi UIN Tulungagung. Maka sesungguhnya civitas akademika IAIN Tulungagung secara umum memiliki tugas besar mewujudkan “mimpi” Pak Rektor, juga mimpi kita semua, yakni menjadikan usia IAIN Tulungagung tidak terlalu lama karena peralihan status menjadi UIN. UIN sungguhan, bukan UINsyaallah…
Kembali lagi ke FUAD. Sebelum akhirnya Adab dan Dakwah berpisah dari Ushuluddin, FUAD harus terlebih dahulu mengalami masa kejayaan. Tiga wilayah penyokong teritori FUAD harus terlebih dulu bahu-membahu membesarkan nama FUAD sehingga benderanya berkibar gagah dan meyakinkan, tidak malu-malu dan malu-maluin. Sehingga ketika saatnya nanti mereka berpisah, maka perpisahannya dikarenakan tuntutan teknis-praktis-akademis, bukan karena adanya disharmonis ataupun percekcokan tak berkesudahan.
Adapun sekarang, jangan dulu berpikir tentang “perceraian.” Melainkan mari menjadikan bayi unyu bernama FUAD ini tumbuh, besar, dewasa, matang, berwibawa, berguna dan bermartabat. Tugas terberat dan terbesar menjadikan FUAD seperti itu ada di pundak Abahnya FUAD. Tapi saya, sebagai Abahnya FUAD, tentu tidak mungkin kerja sendirian. Maka siapa pun nanti yang akan menemani saya; baik di level wakil dekan, maupun di jurusan serta unsur struktur lainnya, mereka harus berikrar akan bekerja penuh kesungguhan untuk bersama-sama memajukan FUAD kebanggaan.
Wallâh al-Musta’ân…
Berita Terkini
Delegasi IAT Ukir Prestasi Gemilang, Amankan Juara 2 Cabang MFQ di STAI Al Anwar Rembang
Dua Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN SATU Tulungagung Raih Juara II Musabaqah Makalah Ilmiah Qur’an (MMIQ) di Kecamatan Tulungagung
Pendampingan Masjid: Gerakan Nyata Dosen dan Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN SATU Tulungagung untuk Masjid Ramah Generasi
Seminar Geopolitik Timur-Tengah dengan tema “Meneroka Tatanan Baru Timur-Tengah Pasca Perang Amerika-Israel vs Iran”
Tiga Mahasiswa FUAD UIN SATU Raih Juara I Musabaqah Fahmil Qur’an Nasional 2026
Inspiratif! Mahasiswi KPI FUAD UIN SATU Terpilih Sebagai Google Student Ambassador 2026
Pengumuman Terkini
Jam Operasional Perkuliahan FUAD Selama Ramadhan 1447 H
Pengajuan Judul, Ujian Seminar Proposal Skripsi, Ujian Komprehensif, dan Ujian Skripsi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026
Jadwal Pengajuan Judul dan Ujian Seminar Proposal FUAD Semester Akademik 2025/2026
Jadwal Ujian Komprehensif Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Semester Akademik 2025/2026
Alur Pengisian dan Pengesahan IRS Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Survei Kepuasan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Tahun 2023