Tulungagung – Rapat Kerja (Raker) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU Tulungagung) Tahun 2026 memasuki hari pertama yang dilaksanakan di lantai 5 Gedung Prajnaparamita pada Selasa (10/02/2026).
Acara diawali dengan sambutan Dekan FUAD, Prof. Dr. Akhmad Rizqon Khamami, Lc., MA. Ia mengajak seluruh dosen dan civitas akademik untuk menjaga solidaritas serta kerukunan antar sesama demi mewujudkan tujuan strategis fakultas.
Rapat kerja ini dihadiri oleh seluruh staf dosen FUAD, civitas akademik, serta tenaga kependidikan. Rizqon menegaskan bahwa keberhasilan suatu lembaga dalam mencetak mahasiswa berkualitas bergantung pada kualitas pengajarnya.
”FUAD harus melahirkan mahasiswa yang mempunyai keterampilan dan daya saing ketika terjun ke masyarakat. Hal itu tentu didukung oleh dosen pengajar berkualitas, minimal berpendidikan doktor (S3),” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya riset dan penelitian sebagai upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik.
Dalam kegiatan ini, FUAD menghadirkan pemateri Prof. Dr. Iwan Permadi, S.H., M.Hum, Kepala Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang, serta Moch. Fikriansyah Wicaksono, S.IIP.,M.A., dosen Universitas Brawijaya Malang.
Dalam paparannya, Iwan Permadi menekankan bahwa Artificial Intelligence telah merubah lanskap pendidikan global. Menurutnya, dosen harus mampu beradaptasi dan memiliki pola pikir terbuka terhadap perkembangan teknologi di era digital.
”Teknologi memang membuat pekerjaan lebih sederhana. Namun, tidak sedikit pula yang dapat menyebabkan academic fault. Campur tangan manusia tetap dominan sekitar 60 persen, sementara teknologi 40 persen,” tuturnya.
Iwan Permadi juga memberikan pelatihan serta pengarahan terkait pemanfaatan berbagai perangkat AI untuk mempersingkat waktu dalam proses riset ilmiah. Ia membuktikan penggunaan AI dapat membantu dosen bekerja lebih efektif dan efisien.
”Tentunya, UIN SATU Tulungagung harus mempunyai kaidah etis dalam penggunaan AI,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan manfaatnya dapat dirasakan dalam dunia akademik, khususnya dalam mendukung produktivitas riset dan publikasi ilmiah. Dengan dukungan teknologi, dosen diharapkan mampu menghasilkan publikasi bereputasi, seperti jurnal terindeks Scopus, dengan lebih mudah dan dalam waktu yang lebih singkat.
Ia menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi pendidikan Islam, melainkan peluang untuk menjadi pelopor peradaban ilmu yang rahmatan lil ‘alamin.
Penulis: Friska Novi Rahmadani
