Analisis Wacana Kritis atas Nilai Persatuan dalam Pemikiran KH. Hasyim Asy‘ari: Resensi terhadap Artikel Alfin Hidayatullah

Kontributor:

Artikel ini mengkaji pemikiran KH. Hasyim Asy’ari mengenai nilai-nilai persatuan melalui karyanya Arbaina Hadisan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyah Nahdlatil Ulama. Berdasarkan penelusuran di mesin telurus artikel ini terbit pada 30 Juni 2025 di rumah Jurnal El Nubuwwah (Jurnal Studi Hadis) UIN Madura. Kitab tersebut memuat 40 hadis pilihan tanpa sanad namun dilengkapi dengan mukharrij sebagai penunjuk sumber hadis. Fokus penelitian diarahkan pada tiga hadis yang dianggap relevan dengan isu persatuan yakni hadis nomor 16, 22, dan 39. Penulis dalam hal ini adalah Alfin Hidayatullah, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berusaha mengombinasikan pendekatan kritik hadis dengan teori Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk untuk melihat bagaimana teks hadis dikonstruksi dalam konteks sosial-politik keislaman dan kebangsaan.

Perspektif hadis terkhusus hadis nomor 16 yang secara implementatif berbicara kasih sayang dinilai Hasan li Dzatihi karena seluruh perawinya diterima dan tidak ditemukan unsur  Syadz maupun Illat. Hadis nomor 22 dalam kitab tersebut yang berbicara cinta terhadap sesama dinilai Sahih li Dzatihikarena sanadnya kuat dan matannya selaras dengan prinsip keimanan. Adapun hadis nomor 39 mengenai pentingnya berjamaah dan menghindari perpecahan mengandung perawi yang lemah, namun kualitasnya meningkat menjadi Hasan li Ghairihi karena memiliki penguat dari jalur lain. Secara akumulatif ketiga hadis tersebut dianggap sahih secara makna karena tidak bertentangan dengan akal sehat maupun prinsip dasar Islam.

Muhammad Hasyim Asy’ari memaknai hadis-hadis tersebut sebagai fondasi ideologis persatuan dalam ranah keagamaan dan kebangsaan. Hadis tentang kasih sayang menekankan pentingnya kepedulian lintas golongan hadis tentang mencintai sesama menumbuhkan solidaritas umat. Di lain sisi hadis tentang berjamaah menegaskan bahwa kesatuan adalah syarat utama kekuatan umat. Melalui pemaknaan ini Muhammad Hasyim Asy’ari berusaha menjadikan hadis sebagai basis teologis bagi gerakan kebangsaan dan dasar berdirinya organisasi kemasyarakatan yang kini dikenal dengan Nahdlatul Ulama.

Dalam kerangka Van Dijk, Alfin Hidayatullah menguraikan bahwa kitab ini memiliki struktur tematik yang berfokus pada nilai empati dan solidaritas, skema yang sistematis dari mukadimah hingga penutup, semantik yang menonjolkan makna sosial dan tujuan menghindari konflik, dan sintaksis yang sederhana namun komunikatif. Gaya bahasa kitab dinilai universal dan persuasif sehingga menekankan nilai kasih sayang dan kebersamaan sebagai landasan moral umat Islam.

Artikel ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi hadis di Indonesia khususnya dalam mengaitkan teks hadis dengan realitas sosial. Meskipun analisis konteks sosial-politik Hasyim Asy’ari dan penerapan teori Van Dijk masih dapat diperdalam tulisan ini berhasil menampilkan relevansi hadis dalam membangun ideologi persatuan bangsa. Secara keseluruhan penelitian ini memperlihatkan bagaimana hadis tidak hanya berfungsi sebagai sumber hukum tetapi juga sebagai instrumen rekayasa sosial dan kebangsaan.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content