Tulungagung, 22 Mei 2025 Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah agendakan kegiatan Workshop Penulisan. Workshop ini lahir atas rasa kecintaan literasi yang di era kemajuan teknologi semakin hari tergerus oleh budaya. Dema FUAD melalui acara ini berkeinginan kuat untuk melihat dan membentuk kader jurnalis hebat yang bukan hanya memiliki kepekaan di bidang jurnalistik namun juga di bidang sosial kemasyarakatan.
Acara dilaksanakan sore hari di salah satu kedai langganan mahasiswa UIN SATU Tulungagung. Kegiatan yang dipandu oleh Wahyu Hermansyah selaku moderator ini dihadiri oleh penulis terkenal di kalangan mahasiswa UIN SATU Tulungagung, Salsabila Prasetya Cindy. Tema kegiatan yang diangkat juga menggugah selera literasi “Menulis untuk dilihat, didengar, dan diingat”. Salsabila menilai tema ini menarik untuk dibahas mengingat fokus pembahasan yang akan disampaikan berfokus pada tulisan opini.
“Menurut saya menulis opini itu lebih sulit dari pada menulis hasil penelitian karena kita penulis dituntut menyajikan berita yang aktual dan faktual, pun kita juga dituntut untuk sekreatif mungkin dalam menarasikannya” tutur Salsabila pada sesi pembukaan. Ia menilai menulis opini bukan hanya tentang narasi dan informasi tapi juga dengan kepentingan dan keberpihakan. Ia menilai banyak para penulis yang memosisikan diri sebagai penulis zona nyaman. Penulis zona nyaman yang dimaksud adalah penulis yang menulis karena ia memiliki kepentingan di situ. Misalnya dalam sebuah instansi terdapat sedikit huru-hara negatif, maka pihak humas bisa jadi mengonfirmasi lewat tulisan lebih cepat dan nilai obyektivitas datanya patut dipertanyakan.
Salsabila bersama dengan wahyu berhasil menciptakan suasana pembelajaran menulis yang aktif dan responsif. Ia berusaha menghidupkan forum dengan mencoba lebih dekat dengan peserta. Sesekali di sela-sela penjelasannya ia melontarkan tawaran barang kali peserta ingin memberikan pertanyaan. Setidaknya ada empat pertanyaan yang masuk misalnya pertanyaan dari Ahmad Misbakhul Amin Mahasiswa Ilmu Hadis. Ia melontarkan pertanyaannya berkaitan dengan kegelisahannya dalam membedakan diksi menulis opini dan hasil penelitian dalam bentuk makalah maupun artikel.
Dengan gaya khas dan santai Salsabila menjawab beberapa pertanyaan dan sesekali terjadi adu argumentasi, tanda dialektika muncul. Bukan hanya itu, di sesi terakhir Salsabilla mengajak peserta untuk praktik menulis sebagai aplikasi dari materi yang disampaikan. Ia tidak ingin hanya dijadikan obyek penyampai materi tapi lebih dari itu bahwa praktik menulis juga harus dihidupkan.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
