Blitar, Agustus–September 2025 menjadi tujuh mahasiswa IPII UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menjalani praktik pengalaman lapangan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blitar. Mereka adalah Alivia Luthfi Nurfadhila, Enggar, Fairus, Cindy, Dimas, Catrine, dan Sisca. Selama hampir dua bulan, tepatnya 11 Agustus hingga 30 September 2025, mereka merasakan langsung dunia kerja pustakawan, mulai dari layanan teknis, layanan publik, hingga aktivitas perpustakaan keliling.
Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Luthfi, ada banyak mahasiswa yang berebut kesempatan untuk bisa magang di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blitar. “Tempat ini juga rekomendasi dari dosen kami, jadi kami merasa tertantang untuk ikut mendaftar dan bersyukur akhirnya diterima,” ungkapnya.
Selama PPL/magang para mahasiswa tak hanya berkutat pada teori, tetapi benar-benar mempraktikkan apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah. Sehari-hari mereka bertugas melakukan shelving, mengolah dan mengklasifikasi buku, melabeli, hingga menginduk buku ke dalam sistem. Mereka juga dilibatkan dalam penggunaan aplikasi Inlislite, ikut serta dalam program perpustakaan keliling, melayani pengunjung, serta terlibat dalam pembuatan konten promosi berupa flyer.
Dari semua aktivitas itu manfaat yang dirasakan cukup besar. “Aku mendapatkan pengalaman baru ilmu yang bermanfaat dan juga relasi yang luas Mas. Selain itu kami juga mendapat pelatihan pustakawan yang membuat wawasan semakin terbuka,” kata Luthfi ketika ditanya Redaktur.
Ia menambahkan bahwa ilmu dasar yang diajarkan oleh dosen benar-benar bisa diterapkan, terutama dalam hal klasifikasi buku. Hal ini menjadi cara nyata untuk mengimplementasikan teori yang sebelumnya hanya dipelajari di kelas. “Upayaku mengimplementasikan ilmu perpustakaan adalah dengan mengklasifikasi buku. Dari situ kita belajar lebih dalam tentang sistem dan praktik kepustakaan,” jelasnya.
Tidak hanya bermanfaat, fasilitas yang tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blitar juga mendukung mahasiswa untuk berkembang. Luthfi menegaskan, tempat ini sangat layak untuk dijadikan lokasi magang. “Sangat worth it, karena ilmu yang didapat banyak sekali dan fasilitasnya juga memadai,” ujarnya.
Dengan atmosfer belajar yang kondusif serta dukungan pustakawan yang ramah, pengalaman magang ini bukan hanya memperkaya pengetahuan akademis, tetapi juga mengasah keterampilan kerja nyata. Luthfi pun menutup pengalamannya dengan pesan sederhana: “Jangan takut mencoba karena dari sini kita tahu bahwa setiap ilmu yang diajarkan di kelas pasti ada manfaatnya saat diterapkan langsung di lapangan.”
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
