Belajar dari Sejarah di Museum: Pengalaman Magang Mahasiswa SPI di Disbudpar Kabupaten Blitar

Kontributor:

Blitar, 26 September 2025_Pengalaman berharga datang dari Agung Lukito, salah satu mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN SATU Tulungagung  yang berkesempatan menjalani magang di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar. Bersama lima rekannya, Agung melaksanakan kegiatan magang selama hampir dua bulan, mulai 11 Agustus hingga 30 September 2025, tepatnya di Bidang Kebudayaan.

Pemilihan tempat magang ini bukan tanpa alasan. Bagi Agung, lokasi Disbudpar yang dekat dari rumah menjadi pertimbangan utama agar ia tetap bisa pulang setiap hari tanpa menginap. Selain itu tempat ini juga direkomendasikan oleh kakak tingkat yang pernah lebih dulu merasakan pengalaman positif di sana. “Selain dekat, saya juga mendapat banyak saran bahwa tempat ini cocok untuk mahasiswa yang ingin belajar tentang sejarah dan kebudayaan,” ujarnya.

Selama magang, Agung mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung bagaimana cara merawat koleksi di museum milik pemerintah daerah. Ia dan teman-temannya terlibat dalam berbagai kegiatan pemeliharaan benda bersejarah agar tetap terjaga keasliannya. Tidak hanya itu, ketika ada pengunjung datang baik dari sekolah maupun masyarakat umum Agung turut berperan sebagai guide atau pemandu wisata yang menjelaskan sejarah koleksi yang dipamerkan di museum. “Rasanya menyenangkan bisa menjelaskan tentang sejarah kepada pengunjung. Ada kepuasan tersendiri ketika orang lain bisa memahami dan tertarik pada warisan budaya kita,” tutur Agung.

Baginya, magang di Disbudpar Kabupaten Blitar memberikan banyak manfaat, terutama dalam memperkaya pengetahuan tentang kebudayaan dan pelestarian sejarah. Ia juga belajar bagaimana bekerja dalam lingkungan profesional yang menghargai kolaborasi dan tanggung jawab. “Teman-teman di museum sangat ramah dan terbuka. Mereka tidak segan mengajari kami hal-hal teknis dalam perawatan koleksi,” tambahnya.

Sebagai mahasiswa yang memiliki latar belakang fakultas keislaman, Agung juga berupaya mengimplementasikan ilmu dakwah di tempat magang dengan cara sederhana namun bermakna yakni mengajak teman-teman untuk rajin salat di sela-sela aktivitas kerja. “Dakwah itu bisa dilakukan dengan tindakan kecil, termasuk mengingatkan dalam kebaikan,” katanya.

Ketika ditanya seberapa worth it tempat magang ini, Agung menjawab dengan antusias, “Worth it banget! Karena selain ilmu yang bermanfaat, suasana kerjanya juga hangat dan penuh dukungan.” Setelah pengalaman ini, Agung mengaku semakin termotivasi untuk menekuni dunia sejarah dan bercita-cita menjadi seorang arkeolog, profesi yang ia anggap sebagai bentuk nyata menjaga jejak masa lalu untuk masa depan.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content