Berdiri di Bahu Para Raksasa

Kontributor:

Setiap membuka laman google.scholar, pengguna situs pengindeks tersebut selalu disuguhi semboyan yang menantang, “stand on the shoulders of giants.

Bila diterjemahkan leterlek, jargon tersebut bermakna, “berdiri di atas bahu para raksasa.” Saya pertama kali aware terhadap slogan itu karena masukan dari Prof. Rizqon Khamami.

Kolega saya yang Pak Dekan ini, tak pernah bosan memberikan insight kepada para mahasiswa yang ikut program klinik menulis di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung, agar selalu aware terhadap urusan “berdiri di bahu para raksasa.”

Slogan itu, berhubungan dengan prinsip kerja keilmuan yang harus selalu bersandar kepada para ilmuwan pendahulu. Mereka adalah para periset yang telah berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu. Dalam semua area studi, ilmu berkembang melalui hasil riset yang disumbang oleh banyak ilmuwan, lintas-generasi.

Pola ini membentuk silsilah kelimuan, tetapi juga melahirkan lingkup perbincangan akademik yang mendalam dan rinci. Dalam semua area studi, silsilah dan perbincangan akademik tersebut berlangsung dalam periode yang sangat panjang, sepanjang usia ilmu itu sendiri.

Karena adanya silsilah keilmuan ini, tidak ada satupun ilmuwan atau peneliti baru yang bisa mengajukan klaim bahwa dia menawarkan tema kajian yang virgin, baru sama sekali. Secara alegoristik, semua area studi atau lingkup kajian kontemporer sesungguhnya adalah susunan batu-bata keilmuan yang diwariskan oleh para pendahulu.

Dengan kata lain, bangunan ilmu sudah jadi, bahkan sudah mapan. Zaman para pioneer sudah berakhir. Para peneliti pemula atau (calon) ilmuwan yang datang kemudian, secara etik, harus mampu memposisikan dirinya di atas atau disela-sela batu-bata perbincangan akademik yang sudah diwariskan oleh para pendahulu.

Dengan begitu, para pemula juga harus memiliki kemampuan untuk bisa melacak genealogi (silsilah) perbincangan akademik di area studi masing-masing. Tanpa kemampuan genealogi, seorang pemula bisa jatuh pada kondisi ‘buta’ peta perbincangan akademik. Dengan kata lain, subyek tersebut tidak memenuhi syarat minimal untuk melakukan kajian atau penelitian.

Prinsip dasar riset sesungguhnya terkait dengan kemampuan subyek dalam melihat celah (lecuna), di dalam suatu perbincangan akademik. Celah yang diwariskan atau ditinggalkan oleh para peneliti pendahulu. Atau, celah yang lahir karena dialektika yang terjadi diantara para ‘raksasa’ itu. Lintas-generasi.

Stand on the shoulders of giants dengan begitu adalah kemampuan melacak silsilah ilmu. Kemampuan memetakan lingkup perbicangan akademik yang dibanguh oleh para ilmuwan pendahulu, lintas-generasi. Tetapi sekaligus kemampuan menempatkan diri, menemukan celah kosong yang disisakan oleh para pendahulu.

Celah kosong membawa peneliti kepada tema-tema yang potensial menawarkan kebaruan (novelty), di tengah padatnya perbincangan akademik. Kebaruan tidak harus–bahkan hampir tidak pernah–berurusan dengan gejala-gejala sosial antropologi baru. Sebaliknya, kebaruan justru merupakan dimensi tersembunyi yang mampu dilihat oleh peneliti karena kematangan peta perbincangan akademik yang dimilikinya.

Berdiri di atas bahu para raksasa hampir-hampir menjadi panduan etik bagi semua peneliti, untuk tidak mudah mendaku sebagai pioneer di atas suatu tema kajian yang sudah ratusan tahun diteliti oleh para begawan pendahulu. Mendaku sebagai pioneer sesungguhnya hanyalah gambaran bahwa subyek bersangkutan tidak membaca secara cukup, untuk tidak menyebutnya ‘buta’ peta kajian akademik.

Saya diingatkan oleh Seli Muna, peneliti IJIR juga, bahwa slogan tersebut lazim dinisbatkan kepada Isaac Newton, terutama surat yang ditulisnya pada 1675. Tulisan lengkap slogan itu adalah, ” if I have seen further (than others), it is by standing on the shoulders of giants.

  • Bila berharap menemukan hal baru, sudah selayaknya seorang penelitian bersandar pada bahu, pundak, para raksasa. Belakangan saya lebih rajin menyampaikan hal ini di beberapa coaching clinic menulis yang dihelat oleh kolega-kolega saya, di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, UIN SATU Tulungagung.

Pertama adalah coaching clinic yang dihelat oleh Jurusan Dakwah. Ketua Jurusannya, Amrullah Ali Mubin, memang sedang membara, dan bertekad menyiapkan mahasiswa untuk bisa berkompetisi di jenjang Pascasarjana. Acara ini pun bertajuk keren sekali, “Kelas Riset Persiapan Studi Lanjut.”

Kelas Riset dihelat pada 1-3 Oktober 2025. Karena totalitas Pak Kajur Aam–begitu ia akrab disapa, bersama dengan Sekretarisnya, Dzinnun Hadi, acara ini pun berakhir gilang-gemilang. Hampir semua peserta klinik menulis, telah memiliki agenda riset yang akan terus mereka tindaklanjuti menjadi karya tugas akhir, sekaligus dirancang juga sebagai desain riset program Magister.

Di Kelas Riset inilah, saya diberi kesempatan untuk berbagi tentang pentingnya bertindak “stand on the shoulders of giants” kepada para mahasiswa. Bukan semata-mata karena agitasi saya, tetapi tekat bulat Pak Kajur dan Sekjur Dakwah lah yang menjadikan peserta klinik hingga saat ini masih berkobar-kobar di dalam mewujudkan jargon riset tersebut.

Adapun coaching clinic kedua dihelat oleh Prodi Sosiologi Agama (SA), 9 Oktober 2025. Sama bulatnya dengan Jurusan Dakwah, koprodi SA, Refki Rosyadi, juga didorong tekad yang besar dalam menyiapkan mahasiswa SA agar mampu menerapkan tren riset kontemporer. Pada kesempatan ini, saya kembali diberi kesempatan dan kehormatan untuk ‘mendakwahkan’ bertapa pentingnya bertindak “stand on the shoulders of giants.”

Baik Jurusan Dakwah maupun Prodi SA telah mengambil inisiatif yang sangat penting dalam menyiapkan mahasiswa-mahasiswa mereka untuk dicetak menjadi peneliti di masa depan. Kedua satuan kerja itu sedang membara, dan semoga segera menular kepada lainnya.

Akhol Firdaus, Kajur Usuluddin; Direktur IJIR UIN SATU Tulungagung

Skip to content