Delegasi KKN Nusantara dari Prodi KPI Hadapi Tantangan sebagai Minoritas di Kulon Progo

Kontributor:

Shinta Nabila Aliyatul Himmah, mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam asal Blitar, terpilih menjadi salah satu delegasi KKN Nusantara 2025. Penugasan ini menjadi momen istimewa sekaligus menantang bagi Shinta, mengingat persiapannya yang kurang dari satu minggu. “Senang sekali bisa terpilih, tapi jujur sedikit deg-degan karena harus cepat siap mental dan fisik,” ungkapnya.

Kegiatan KKN ini berlangsung di Dukuh Tirip, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, sejak 7 Juli hingga 20 Agustus 2025 nanti. Bersama kelompoknya, Shinta bertugas bersosialisasi dengan warga untuk menemukan permasalahan yang bisa diangkat menjadi program kerja. Salah satu masalah utama yang ditemukan adalah pengelolaan sampah rumah tangga. Rencananya, sampah tersebut akan diolah menjadi barang bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga meningkatkan pendapatan warga.

Namun, Shinta menghadapi tantangan yang cukup unik. Sebagai seorang muslim yang hidup di lingkungan minoritas, ia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan warga sekitar. Keberadaan hewan-hewan seperti anjing dan babi peliharaan warga di sekitar pemukiman membuatnya harus ekstra hati-hati dalam menjaga kebersihan pakaian dan tempat salat. “Harus benar-benar memperhatikan najis agar ibadah tetap terjaga,” ujarnya.

Meski begitu, Shinta tidak kehilangan semangat. Dengan kemampuan public speaking dan kepemimpinan yang ia miliki, ia mampu menjalin komunikasi yang baik dengan warga, memimpin diskusi kelompok, serta menyelesaikan masalah secara cepat dan efektif. Keterampilan ini membantunya mengoordinasikan program kerja sekaligus membangun kepercayaan dengan masyarakat setempat.

Proses adaptasi berjalan cukup lancar. Shinta mengaku, interaksi sehari-hari dengan warga justru memperluas wawasannya tentang keberagaman budaya dan toleransi. “Ini pengalaman yang membuka mata. Saya belajar bagaimana tetap teguh dengan identitas diri, sambil menghargai perbedaan di sekitar,” tuturnya.

Ke depan, ia berharap program pengelolaan sampah yang dirancang dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi Dukuh Tirip, sekaligus meninggalkan jejak positif dari KKN Nusantara. “Bukan hanya sekadar program enam minggu, tapi mudah-mudahan bisa menjadi kebiasaan baru warga,” harapnya. Kisah Shinta menjadi bukti bahwa pengabdian di masyarakat bukan hanya tentang mengajar atau membantu, tetapi juga tentang belajar, beradaptasi, dan membangun jembatan pemahaman di tengah perbedaan.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content