Dialog Antarumat Beragama: The Next Level

Kontributor:

Saya diminta secara khusus oleh Rumah Moderasi Beragama, UIN SATU Tulungagung, menjadi narasumber pembanding pada acara dialog Kerukunan Antarumat Beragama.

Acara ini dihelat pada 21 Oktober 2025, di Gedung Prajnaparamita, dengan tajuk mentereng, “Peace building and Ecotheology.” Melalui tajuk tersebut, tampak ada semangat meningkatkan kapasitas dialog antarumat beragama/berkeyakinan ke level lanjut.

Hal ini karena acara-acara dialog seperti yang digelar oleh Pusat Moderasi Beragama tersebut, sebenarnya sudah sangat mainstream. Oleh karena itu, ada pikiran untuk mendorong dialog antarumat beragama ke arah aksi nyata bersama, terutama dalam kerangka mewujudkan ‘dialog antar-iman’ yang berdampak pada penyelamatan lingkungan.

Tentu saja, pikiran tersebut tidak terlepas dari tren yang sedang berkembang di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) belakangan ini. Berbagai program riset dan pengabdian masyarakat memang sedang ramai ‘dibungkus’ dengan framework eco-theology.

Pada awal Oktober 2025, Syamsul Umam, Ketua Pusat Moderasi Beragama UIN SATU Tulungagung, memang secara khusus mengajak diskusi terkait, bagaimana caranya mewujudkan dialog antaumat beragama yang tidak terkesan ‘basi.’

Saya menyambut baik rencana tersebut, karena isu dialog antarumat beragama memang salah satu yang paling saya geluti. Dalam diskusi tersebut, saya menyampaikan kepada Umam, “dialog perlu diarahkan untuk membincang manifestasi dari Deklarasi Istiqlal (2024) yang harusnya menjadi kerangka umum kerja sama antarumat beragama di Indonesia.”

Diskusi menggelinding, dan banyak opsi tema, dan semua rumit karena secara faktual kehidupan antarumat beragama memang relatif menyisakan banyak persoalan mendasar, terutama pada isu kesetaraan dan pelanggaran terhadap hak-hak beragama/berkeyakinan kelompok-kelompok minoritas.

Meski begitu, kerumitan harus dipangkas, dan jadilah “Peacebuilding and eco-theology” diambil sebagai tema yang paling konstruktif dibandingkan dengan tema-tema lainnya. Umam tampak bersemangat, dan “hanya butuh seminggu untuk mewujudkan kegiatan tersebut,” tegasnya dengan semangat.

Atas dukungan Rektorat dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M), akhirnya dialog antarumat beragama itu pun terwujud. Acara berlangsung khidmat. Disambut oleh Ketua LP2M, Prof. Ngainun Naim, dan dibuka oleh Wakil Rektor III, Prof. Syamsun Ni’am.

Semua perwakilan agama hadir. Representasi Hindu Dharma, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam, secara bergantian saling berbagi perspektif dan pengalaman terkait dengan isu perdamaian dan penyelamatan lingkungan hidup. Tampak juga undangan khusus dari Organisasi Otonom Nahdlatul Ulama, seperti Muslimat, Fatayat, dan Ansor. Juga kalangan Penghayat Kepercayaan.

Tokoh-tokoh yang sudah sangat familiar dan akrab karena, tingkat intensitas mereka di dalam berbagai perjumpaan, baik dalam acara-acara dialog antarumat beragama maupun acara-acara sosial lain, yang melibatkan tokoh-tokoh tersebut.

UIN SATU Tulungagung sendiri menjadi kampus yang sangat aktif menggelar kegiatan yang melibatkan partisipasi tokoh-tokoh lintas agama tersebut. Pdt. Suprapto, perwakilan Kristen, bahkan menyebut kampus ini sebagai lokomotif moderasi karena menimbang intensitasnya dalam menggelar kegiatan serupa di dalam kampus.

Sabagai narasumber pembanding, saya ditaruh pada sesi terakhir. Sesi saya berlangsung sesudah para tokoh agama menyampaikan perspektif masing-masing. Dan justru karena itu saya berkesempatan menyimak dengan seksama pandangan-pandangan mereka.

Saya merekam sekaligus menyusun kesimpulan awal, semacam pandangan hipotetikal, yang harus terus diuji dalam keseluruhan kehidupan bergama/berkeyakinan demi masa depan yang lebih gemilang. Pertama, era dialog antarumat beragama yang berorientasi pada teologi sudah seharusnya diakhiri, karena hanya akan memicu lahirnya truth claim yang tidak produktif dan perlu dihindari dalam dialog.

Kedua, dialog justru perlu dibingkai lebih cantik dengan mengusung agenda-agenda kemanusiaan bersama, yang bisa diselesaikan secara bahu-membahu antarumat beragama. Model ini perlu mengacu model ‘Deklarasi Istiqlal’ yang membawa dialog antaragama ke ranah kemanusiaan.

Ketiga, dialog yang diletakan dalam tugas kemanusiaan itulah yang memungkinkannya dikonversikan menjadi aksi-aksi nyata. Seberapapun kecilnya, aksi-aksi nyata dibutuhkan untuk mengimbangi arus dehumanisasi yang diciptakan oleh tata kehidupan modern yang sangat eksploitatif dan tidak menghormati alam semesta. Inilah substansi eco-theology yang layak diperjuangkan bersama oleh semua umat beragama/berkeyakinan.

Akhol Firdaus
21 Oktober 202

Skip to content