Diskursus Institute terus mengorbit. Ia seperti satelit, berputar menyertai spirit intelektualisme yang ingin digerakan oleh kampus, UIN SATU Tulungagung sebagai planetnya.
Ini salah satu lembaga paling penting meski berada di luar pagar kampus. Cara lembaga ini mengorbit, menjadikannya tetap di dalam ekosistem. Dedikasinya dalam menyalakan diskusi dan mendistribusikan gagasan, menandai keberadaanya sebagai satelit.
Di masa lalu, pada dekade 1980an-1990an, lembaga-lembaga seperti inilah justru yang mengangkat marwah dan pamor kampus. Siapa yang tidak kenal LKiS sebagai lembaga satelit IAIN Kalijaga di masa lalu. Di saat itu, pasar gagasan, kata Hairus Salim, justru sering lahir dari lembaga satelit, dan bukan dari planetnya.
Peran lembaga satelit semakin memudar pada 2000an akhir, bersamaan dengan menguatnya intelektualisme kampus. Kembalinya putra-putra terbaik dari pendidikan luar negeri, dan menjamurnya publikasi, telah menandai towering pemikiran di kampus. Meski begitu, bukan berarti kampus telah menjadi pasar gagasan.
Pada episode ini, intelektualisme kampus melakukan percepatan, menjawab ketertinggalan, menggenjot publikasi. Saking asyiknya, hampir semua produksi pengetahuan tidak menjawab, atau setidaknya, tidak berdialektika dengan problem aktual yang mengepung fakta sosial. Suara publik hampir tidak terwakili dalam produksi pengetahuan kampus.
Para aktor perubahan sosial di luar kampus, berbicara menggunakan bahasa konseptual sendiri. Para ilmuwan di dalam kampus, juga memproduksi bahasa konseptual yang berbeda. Keduanya tersegregasi, hampir tidak saling bertegur sapa. Dan alih-alih menjawab problem pasar gagasan, kampus hadir dalam citranya sebagai menara.
Mungkin situasi tersebut makin parah saat ini. Saya tidak bisa memastikan seberapa parah, tapi satu hal yang pasti ‘pasar gagasan’ seperti yang disindir oleh Hairus Salim, memang makin sepi. Ini berlaku di dalam maupun di luar kampus.
Dalam kondisi seperti ini, bila masih ada lembaga satelit seperti yang dimainkan oleh Diskursus Institute, maka sudah selayaknya mendapat apresiasi yang sepadan. Para intelektual perlu ikut berbahagia (mangayu Bagya) karena masih ada saja, anak-anak muda yang berjibaku dengan pemikiran. Untuk sekadar menunda, keadaan ‘makin tawar.’
Terima kasih Diskursus Institute.
Penulis: Akhol Firdaus (Dosen FUAD UIN SATU)
