Implementasi Nilai Tasawuf Kitab – Kitab Hadis dalam Meningkatkan Spiritualitas Santri di Rubik Pesantren: Riset Baru Mahasiswa Ilmu Hadis

Kontributor:

Tulungagung, Upaya meningkatkan kualitas spiritual santri kembali menjadi perhatian penting di kalangan pesantren. Hal ini terlihat dari penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Agama Vol. 25 No. 1 (2024) berjudul Implementation of Tasawwuf Values in the Book of Durratun Nashihin to Improve the Spirituality of Students at the Lubabul Fatah Islamic Boarding School, Tulungagung. Penelitian ini menyoroti bagaimana Pondok Pesantren Lubabul Fatah memanfaatkan nilai-nilai tasawuf dalam kitab Durratun Nashihin sebagai pedoman pembinaan santri. Tulisan keren ini ditulis Syaiful Rijal beserta Tim, semuanya merupakan mahasiswa yang kini duduk di semester 7.

Penelitian ini menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan formal. Lebih jauh pesantren merupakan ruang bagi para santri melakukan olah batin dan pendalaman spiritual. Pada masa arus globalisasi yang membawa berbagai pengaruh moral, penguatan dimensi ruhani menjadi kian mendesak agar karakter dan akhlak santri tetap terjaga.

Tasawuf dipilih sebagai landasan karena menawarkan keseimbangan antara aspek teori dan praktik. Ia tidak hanya berisi amalan-amalan rohaniah, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai moral seperti kesabaran, kerendahan hati, dan empati. Melalui tasawuf, santri diarahkan untuk membangun kesadaran diri (awareness), memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kepekaan terhadap sesama.

Menariknya kitab Durratun Nashihin menjadi referensi utama dalam pembinaan tasawuf di Pesantren Lubabul Fatah. Meski penelitian takhrij yang dilakukan Ahmad Lutfi Fathullah (2023) menemukan bahwa sebagian besar hadis dalam kitab ini berstatus dha‘if bahkan maudhu’, kitab ini tetap diterima sebagai bahan pembelajaran akhlak. Alasannya pesan-pesan moral yang dikandungnya dinilai sangat relevan dan bermanfaat untuk memotivasi umat melakukan amal kebajikan. Bagi pengarangnya orientasi utamanya adalah nilai hikmah bukan kekuatan sanad semata.

Dalam praktiknya pesantren mengimplementasikan nilai-nilai tasawuf dari kitab tersebut melalui lima poin utama seperti sabar, tawadhu’, shadaqah, shalat berjamaah, serta membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Kelima nilai ini tidak hanya diajarkan secara ritual, tetapi dirancang dalam bentuk kurikulum pendidikan yang sistematis. Santri tidak hanya dibimbing untuk mengamalkan ajaran tersebut tetapi juga memahami dasar dan makna spiritualnya.

Hasil penerapan nilai tasawuf ini tampak dari kepribadian santri yang semakin tenang, terarah, serta menunjukkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Pesantren berhasil menciptakan lingkungan yang formal dan juga pada penanaman karakter dan pematangan spiritual. Dengan demikian nilai-nilai tasawuf melalui Durratun Nashihin memberikan kontribusi besar dalam membentuk generasi santri yang berkesadaran tinggi dan siap menghadapi tantangan zaman.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content