Trenggalek, 11 Juli 2025_ Tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan. Semangat pengabdian inilah yang coba dihidupkan oleh Divisi Dakwah wa Ilmiah HMPS Bahasa dan Sastra Arab melalui Ngabdi Bersama 2025, sebuah agenda pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada 7–10 Juli 2025 di Desa Gador, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Dengan mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas, Menggapai Kualitas,” kegiatan ini menghadirkan wajah mahasiswa sebagai sosok yang tidak hanya fasih berbicara di kelas, tetapi juga luwes berbaur dan menyelami kehidupan nyata masyarakat desa.
Kegiatan dimulai dengan pembukaan resmi di Balai Desa Gador yang berlangsung khidmat. Turut hadir Kepala Desa Gador, Waras, serta perangkat desa dan seluruh panitia. Dalam sambutannya, Waras menyampaikan apresiasi dan harapan agar kehadiran mahasiswa benar-benar memberi manfaat bagi warga. Suasana kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mengajar mengaji di berbagai TPQ desa, serta Lailatus Sholawat dan pembacaan Maulid Diba’ di malam hari yang menghangatkan hubungan emosional antara mahasiswa, santri, dan masyarakat.
Hari kedua diisi dengan jalan sehat bersama warga sebagai bentuk pendekatan kultural awal. Dilanjutkan dengan sesi edukasi Digital Marketing oleh M. Fakhrul Hikam yang diselenggarakan di Balai Desa. Materi ini menjadi sangat relevan dalam konteks pemberdayaan UMKM lokal. Upaya ini tidak berhenti pada seminar, tetapi juga dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke pelaku usaha lokal seperti pengrajin krecek singkong, tiwul, dan tape sebuah langkah konkret yang menunjukkan pengabdian sebagai aksi nyata, bukan hanya seremonial.
Hari ketiga difokuskan pada aksi sosial: kerja bakti membersihkan masjid dan Musholla sekitar TPQ. Aksi ini menjadi wujud nyata nilai keislaman yang tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan. Momen ini juga mempererat hubungan antar generasi dan menjadi sarana edukasi lingkungan. Sore harinya kegiatan mengaji bersama tetap dilanjutkan dengan semangat yang sama.
Penutupan di hari keempat diawali dengan khatmil Qur’an di pagi hari dan diakhiri dengan pelepasan peserta secara resmi di Balai Desa. Rasa haru dan syukur melingkupi suasana perpisahan yang sederhana namun bermakna. Ketua pelaksana menyampaikan bahwa walau sempat ada kendala teknis, kekompakan panitia menjadi kunci kelancaran acara.
Kegiatan Ngabdi Bersama ini menjadi bukti bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban akademik. Ia adalah proses pembentukan karakter, pendewasaan berpikir, dan pelatihan empati. Bagi mahasiswa, ini adalah ruang refleksi; bagi masyarakat, ini adalah tanda kehadiran perguruan tinggi yang benar-benar hadir di tengah-tengah mereka. Kegiatan ini bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi justru awal dari kesadaran baru bahwa menjadi mahasiswa adalah tentang ilmu, tanggung jawab sosial, dan cinta pada kemanusiaan.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
