Tidak dapat dipungkiri bahwa menempuh pendidikan di perguruan tinggi merupakan salah satu cita-cita yang dimiliki semua anak bangsa. Ikhtiar untuk membentuk kepribadian yang mapan dan pendidikan serta kemampuan mumpuni melalui pendidikan terintegrasi dan terkonsep juga menjadi salah satu hal yang diupayakan. Sejalan dengan itu menyesuaikan jurusan dan program studi yang menjadi kecondongan diri menjadi penting.
Program Studi Sosiologi Agama, salah satu program studi di bawah naungan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN SATU Tulungagung telah berakreditasi unggul. Informasi yang disampaikan Koordinator Program Studi Sosiologi Agama bahwa program studi ini dibentuk dalam rangka merespons kondisi sosial yang beragam. Di lain sisi mahasiswa yang masuk di program studi ini nantinya diproyeksikan untuk menjadi pemerhati sosial di beberapa aspek misalnya di aspek keagamaan, politik, dan perusahaan. Lebih jelas ia menyampaikan bahwa setidaknya lulusan Prodi sosiologi agama secara linier dapat memiliki 5 prospek kerja.
Pertama, peneliti. Seorang peneliti tentu harus berbekal teori dan pengalaman yang cukup. Di program studi sosiologi agama mahasiswa dibekali dengan berbagai keilmuan mulai jurnalistik, teknik publikasi dan riset, serta piranti ilmu sosial lainnya. Hal demikian bukan hanya untuk menunjang kompetensi dasar dan kognitif mahasiswa namun juga sebagai alat untuk melestarikan pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan ilmu sosial dan humaniora. Mahasiswa yang menjadi peneliti nantinya dapat berkontribusi dan berafiliasi dengan berbagai lembaga misalnya lembaga penelitian, lembaga survei, dan lembaga sosial lainnya.
Kedua, tenaga kependidikan. Tidak memungkiri bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang penting untuk diajarkan kepada seluruh siswa dan mahasiswa di tanah air. Dengan demikian kebutuhan untuk memenuhi standar kompetensi di bidang itu juga sangat besar. Menurut Refki Lulusan sosiologi agam sangat berkesempatan untuk masuk di posisi itu. “Tentu lulusan kita juga bisa jadi guru atau pun dosen, semua lembaga pendidikan pasti membutuhkan itu. Tidak ada sekolah atau pun perguruan tinggi yang tidak membutuhkannya” kata Koorprodi yang kerap disapa Pak Refki itu.
Ketiga, Sosiopreneur. Menjadi pengusaha dan khususnya menjadi fasilitator dan kontributor perusahaan menjadi salah satu profil lulusan di program studi ini. Hal demikian menjadi wajar karena dalam proses pembelajaran mahasiswa bukan hanya diberikan pelajaran tentang sosial saja namun juga kepekaan dalam urusan Start Up. Refki menyebutkan sudah ada beberapa lulusan tang diterima di perusahaan besar baik di dalam maupun luar negeri. Pun, sudah ada pula alumni yang mencoba merintis usaha dan kini sudah berkembang. Ia menyebut sejauh pengalamannya menjadi pengelola Prodi rerata lulusan Sosiologi Agama ketika diterima di perusahaan selalu mendapatkan kepercayaan lebih karena aspek yang ditawarkan bukan hanya kemampuan yang profesional namun juga aspek kejujuran dan religiositas.
Keempat, pegawai negeri sipil dan pemerintahan. Lulusan sosiologi agama yang memiliki kepekaan sosial tinggi dan jiwa khidmah mumpuni tentunya berkesempatan besar untuk dapat digabung di pemerintahan. Lulusan dengan kompetensi unggul mampu menawarkan melihat satu wacana besar khususnya di wilayah sosial. Dengan demikian sebetulnya lulusannya bukan hanya dapat menjadi pegawai pemerintahan namun juga pemerhati politik dan praktisinya.
Kelima, wirausaha dan ahli jasa. Sebagaimana dikatakan di awal bahwa bisa saja lulusan sosiologi agama membukan jasa survei, dan pemerhati sosial. Dengan membuka jasa pemerhati dan lembaga survei artinya keilmuan dan penunjang sosiologi telah dikuasai oleh lulusan. Hal demikian dapat dijadikan salah satu referensi dan profil lulusan sosiologi agama. Refki berpesan kepada calon mahasiswa yang berkeinginan kuat bergabung di Program Studi ini “Sosiologi itu ruang yang luas tapi justru orang banyak lali dengan ruang itu. Maka ketika kamu memilihnya sebagai pilihan Prodimu maka kamu bisa fokus dan konsentrasi membaca fenomena sosial secara ilmiah, dan itu bisa menjadikan satu keahliannya yang nantinya terus bisa relevan di setiap pekerjaan”.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
