Komitmen Lestarikan Ekoteologi di Dunia Akademik: Mahasiswa Ilmu Hadis Riset di Konservasi Mangrove Trenggalek

Kontributor:

Keberadaan alam menyuplai banyak manfaat yang dibutuhkan semua makhluk hidup di bumi ini. Sebagai salah satu upaya melestarikannya manusia sering kali melakukan berbagai program pelestarian misalnya reboisasi atau dengan melakukan penghijauan kembali. Selain karena banyaknya kemanfaatan yang dihasilkan dari melestarikannya ternyata Islam sendiri juga mengajarkan arti cinta dengan lingkungan dan alam.

Salah satu upaya pelestarian alam yang juga dilakukan manusia adalah konservasi, misalnya Konservasi Kili-Kili di Kabupaten Trenggalek. Konservasi Kili-Kili yang memiliki dua fokus konservasi yakni konservasi penyu dan konservasi mangrove merupakan lahan kosong milik pemerintah yang dikelola warga. Di situ, terdapat banyak spesies penyu dan mangrove yang dikelola dalam rangka menjaga habitat dan keberadaannya. Selain itu, mangrove yang salah satu manfaatnya adalah sebagai media mitigasi dan preventif terhadap erosi dikelola  juga dalam rangka mendapatkan berbagai kemanfaatan. Misalnya dari segi kelestarian alam, ekonomi, dan kemapanan pangan. Tak aral, dulu Desa Woncooyo Panggul Trenggalek hanya dikenal sebagai desa dengan kemandirian pangan sekarang juga dikenal dengan desa wisata alam dan desa umkm hijau.

Masyarakat yang memiliki atensi tinggi kepada perkembangan biota laut, alam dan lingkungan serta memiliki kepekaan untuk merawat keberlangsungan bumi itu ternyata tidak terlepas dari sedikit banyaknya dogma agama. Kepala Desa Wonocoyo, Eko Margono menyebutkan “Semangat untuk menanam dan merawat mangrove itu juga tumbuh dari dorongan agama mas, bahkan beberapa orang menyebut ibadahku ya menanam mangrove”. (25/05/2025)

Mahasiswa Ilmu Hadis melihat fenomena ini sebagai satu wacana baru. Hal ini dikarenakan beberapa riset terdahulu hanya berfokus pada teks dan tradisi resepsi masyarakat terhadap alquran maupun hadis. Kini, beberapa mahasiswa itu berupaya untuk melihat wacana berbasis alam sebagai bentuk novelty baru. Mulanya kegiatan diawali dengan program pengabdian bersama HMPS IH pada pertengahan 2024, lalu kegiatan tersebut menghasilkan satu wacana untuk melakukan penelitian. Enam Mahasiswa Ilmu Hadis itu berkomitmen untuk melakukan riset tentang tafsir indegeneous perihal konservasi di desa itu. Komitmen itu dibuktikan pada 24-26 Mei2025 keenam mahasiswa itu menginap dan hidup berbaur dengan masyarakat, melihat budaya dan tafsir klasik di dalamnya.  Keenam yang melakukan penelitian untuk dijadikan buku itu adalah Ahmad Misbakhul Amin, Alfin Hidayatullah, Zalfa Ashilah Ar Rasyid, Wafa Satria Kamil, Nabila Rahma Al Aghna, dan Moh. Fadhil Febryansyah.

Melalui riset ini keenam mahasiswa berencana untuk menyusun laporan berdasarkan teori dan metodologi yang jelas dalam bentuk buku ISBN. Buku akan ditulis menggunakan pendekatan sosio-historis yakni pendekatan dengan konsep yang mengedepankan fakta historis dan sosial. Melalui komitmen penelitian ini, diharapkan kajian akademik tentang ilmu alam, sosial, dan keagamaan tetap lestari dan memiliki nilai interkoneksi. Tanpa mengesampingkan epistemologi dan rancang bangun keilmuannya, hal ini dinilai dapat dijadikan sebagai spirit baru untuk terus mengembangkan wacana dan menciptakan paradigma keislaman.  

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content