Tulungagung, 22 Oktober 2025_ Dalam momentum Hari Santri Nasional 2025, sosok inspiratif Mutrofin, Koordinator Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berbagi pandangan reflektif tentang makna kesantrian di era modern. Dalam perbincangan khusus pada momentum HSN, beliau menegaskan bahwa santri masa kini harus tetap berpegang pada nilai keilmuan dan spiritualitas pesantren, sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Santri harus tetap ngaji. Ngaji itu bukan hanya soal kitab, tapi juga tentang kehidupan dan bagaimana santri bisa cepat beradaptasi dengan situasi hari ini,” tutur Mutrofin. Menurutnya, esensi ngaji bukan hanya aktivitas ritual, melainkan proses pembentukan karakter dan kemampuan membaca realitas sosial.
Mutrofin yang pernah menimba ilmu di Pondok Raudlatul Banat, Taman Sidoarjo, pada tahun 2001–2004 menceritakan masa pengabdiannya sebagai ketua pondok dan kepala keamanan. “Pengabdian saya bukan di ndalem, tapi di lapangan. Apa pun yang terjadi di lingkungan pesantren menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya mengenang masa santrinya yang penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa santri adalah simbol pengabdian tanpa pamrih. Santri tidak hanya dituntut cakap secara spiritual tetapi juga memiliki kontribusi sosial yang nyata. “Santri juga harus bisa memberikan kontribusi, memberikan apa yang kita bisa,” katanya menambahkan.
Di tengah derasnya arus digital, dosen yang kerap disapa Bu Rofin menekankan pentingnya peran santri dalam mengawal media sosial secara bijak. Ia menilai bahwa santri harus mampu menjadi pengimbang informasi dan pelaku dakwah digital yang cerdas. “Santri harus bisa mengonter narasi di media sosial sebagai bentuk pengawalan. Pesan saya, tetap saring sebelum sharing. Kita tidak bisa dicekoki dengan sesuatu yang masih mentah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa hubungan antara santri dan kiai tidak sekadar relasi pedagogis tetapi juga hubungan spiritual dan sosial yang saling menguatkan. Dalam konteks ini, ia mendukung penuh publikasi tradisi pesantren di ruang digital. “Saya sangat setuju bila tradisi pesantren dipublish di media sosial. Dunia tidak akan indah jika semua sama. Itulah perspektif,” ujarnya.
Mengakhiri perbincangan, Bu Mutrofin menyampaikan perumpamaan yang penuh makna, “Gula tidak akan terasa manis bila tidak dicicipi. Orang di luar pesantren hanya bisa memandang, tapi santri merasakan dan menghayati.”
Pernyataan Mutrofin menggambarkan wajah baru kesantrian yang berakar pada tradisi, berpijak pada keikhlasan, dan terbuka terhadap inovasi. Inilah wajah santri masa kini pembelajar yang tangguh, adaptif, dan tetap setia menjaga nilai-nilai pesantren di tengah perubahan zaman.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
