Madrasah Sastra: Mengurai Enigma Sastra, Memahami Makna di Balik Keindahan

Kontributor:

Tulungagung, 13-14 Juni 2025 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN SATU Tulungagung menyelenggarakan sekolah sastra 2025. Event yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Darun Najah Podorejo, Sumbergempol, Tulungagung ini dihadiri oleh berbagai macam kalangan mulai dari mahasiswa, santri, maupun aktivis seni bahasa. Kegiatannya berlangsung selama dua hari dengan tujuan membangkitkan kesadaran peserta bahwa sastra bukan hanya untuk dinikmati dari sisi estetika tetapi juga memiliki rekaman sejarah dan nilai sosial yang penting untuk dipahami.

Madrasah Sastra ini menghadirkan tiga pemateri utama dengan bahasan yang saling melengkapi. Mochammad Faizun, S.S., M.Pd.I membahas tentang sejarah sastra dan dimoderatori oleh Ahmad Muzaki Al Habibi, Mahasiswa aktif BSA. M. Hafidzullah SM, M.A mengulas teori sastra dengan moderator yang sama. Sementara itu, Iftitah, M.A memaparkan materi tentang kritik sastra, yang dipandu oleh Muhammad Qadli Al Khofi sebagai moderator. Dengan mengusung tema “Memahami Enigma Sastra”, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa Prodi BSA dan peserta umum yang ingin mengurai makna tersembunyi di balik karya sastra.

Diskusi menjadi semakin menarik dengan hadirnya dua pembedah, yaitu Iwan Kurniawan dan Alfin Saifulloh, yang dimoderatori oleh Zayyin Qalbi Hasyim. Para pembedah memberikan telaah kritis yang membuka wawasan peserta tentang bagaimana menghubungkan nilai keindahan sastra dengan konteks sosial dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Ketua pelaksana, Leni Delima Sari, menyampaikan bahwa tema Memahami Enigma Sastra dipilih agar peserta bisa mengenali sastra tidak hanya dari sisi indahnya, tetapi juga dari kedalaman makna sosial dan historisnya. “Dengan diadakannya Madrasah Sastra ini, saya berharap dapat memberikan edukasi tambahan bagi semua pihak yang terlibat, baik peserta, panitia, maupun pemateri dan moderator. Kegiatan ini bermanfaat bukan hanya dari sisi materi, tetapi juga dari sisi pengalaman yang tak ternilai,” ungkapnya.

Ketua HMPS BSA, Moh. Nauval Zaqi Elfikri dalam sambutannya berharap agar kegiatan Madrasah Sastra ini dapat terus berlanjut di masa depan dan menjadi identitas khas bagi Prodi BSA. “Semoga di tahun-tahun mendatang Madrasah Sastra bisa diistiqomahkan sebagai ikon BSA dan semoga terus berkembang menjadi kegiatan yang lebih baik,” tuturnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 20 peserta ini membuktikan bahwa sastra tidak pernah kehilangan daya tariknya. Dengan membedah enigma sastra, peserta tidak hanya belajar menikmati keindahan kata tetapi juga memahami pesan sejarah dan sosial yang tersembunyi di baliknya. Madrasah Sastra menjadi langkah awal untuk membentuk pembaca yang lebih kritis dan peka terhadap realitas. Nauval juga menambahkan bahwa sastra bukan sekadar keindahan kata tapi jejak sejarah dan refleksi sosial. Inilah yang menjadi ruh dalam kegiatan Madrasah Sastra.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content