Magang atau dalam bahasa lingkungan akademik dibahasakan dengan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) bukan sekadar kewajiban akademik tapi bisa menjadi pengalaman berharga yang membentuk karakter dan menambah jejaring sosial. Hal ini dibuktikan oleh Syamsa Nur Shiha mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) yang menjalani Program magang di Pondok Pesantren Baitul Kilmah, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, pada 6 Juni hingga 5 Juli 2024, satu tahun lalu.
Awalnya, ia menceritakan alasan Program Studi BSA mengirimnya untuk magang di sana adalah kemampuannya dalam berbahasa arab. Pengelola Prodi menilai bahwa PP. Baitul Kilmah adalah tempat yang pas, karena di lembaga ini berbahasa arab sangat ditradisikan. Saat ditanya kesan selama magang di Yogyakarta oleh redaktur ia dengan antusias mengungkapkan, “Suenang dan nyuaman mas.” Dua kata sederhana yang menggambarkan kenyamanan dan kegembiraan yang ia rasakan selama sebulan berada di kota pelajar tersebut.
Dengan bekal kemampuan dasar gramatika Bahasa Arab Gus Syamsa mantap melangkah ke tempat itu. “Bekal saya cuma agak paham gramatika bahasa arab, insyaallah itu sudah cukup untuk jadi pegangan,” ucapnya merendah. Namun ternyata pengalaman yang ia dapatkan jauh melampaui ekspektasi.
Ia bersama dengan enam temannya berangkat ke Yogyakarta dan belajar dengan mengikuti ritme pendidikan sebagaimana yang telah terkonsep oleh lembaga itu. Di pondok Syamsa merasakan kehangatan kekeluargaan yang kuat. Menurutnya santri dan pelajar di sana sangat humble dan selalu mengajak terlibat dalam setiap kegiatan mulai kegiatan berbahasa, mujahadah, hingga qurban. Bahkan ia pernah diajak rapat dalam penyusunan kegiatan pondok yang semakin mengasah kemampuan bersosial dan berorganisasinya.
Magang di Pondok Baitul Kilmah memberikan pelajaran insting akademik yang sesuai dengan kompetensi Prodinya. Proses pembelajaran dan praktik berbahasa di Arabic area menurutnya sangat menunjang skil bahasaannya. Ia merekomendasikan tempat ini untuk dijadikan sebagai tempat PPL lagi di tahun berikutnya. Syamsa dan rekan-rekannya dilatih untuk memahami dan menerjemahkan teks-teks turats ke dalam Bahasa Indonesia dnegan berbagai teri dan metode unik. Inilah yang menurutnya akan menjadi bekal penting bagi Mahassiwa BSA dalam mengasah keterampilan membaca dan menerjemahkan kitab kuning dengan baik dan benar.
Ia juga berpesan kepada adik tingkatnya, “Jangan pernah minder kalau merasa belum bisa apa-apa. Di tempat magang sampeyan akan dituntun bahkan dari hal yang paling dasar. Yang penting kalian tunjukkan semangat belajar, karena pengajarnya pasti akan lebih semangat juga ngajarin kalian.”
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
