Mahasiswa Multitalenta: Perjalanan Inspiratif Mahasiswa IAT KKN Internasional di Thailand.

Kontributor:

Menjadi Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) tidak membatasi langkah untuk menembus batas-batas dunia. Banyak orang menganggap menjadi Mahasiswa IAT hanya berkutat mempelajari tafsir, Al Quran, dan tanpa melihat wacana sekitar.  Hal inilah yang dibuktikan oleh Mohammad Fatkhul Jinan, Mahasiswa semester 8 Prodi IAT yang juga seorang santri Ustadz di Pondok Pesantren Tarbiyatul Qur’an Al Mannan Tulungagung. Di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi dan mengajar Al Qur’an, Mahasiswa yang kerap disapa Mas Jinan ini berhasil menorehkan prestasi dengan mengikuti program KKN Internasional yang diselenggarakan oleh LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Perjalanan Jinan dimulai ketika ia mengumpulkan berkas pada 26 April 2024. Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, ia melanjutkan ke tahap wawancara pada 7 Mei 2024. Kabar gembira datang ketika pengumuman resmi peserta KKN Internasional dirilis namanya tercantum di posisi teratas. “Saya benar-benar tidak menyangka bisa terpilih, apalagi berada di urutan pertama,” ungkap Jinan ketika berbicara dengan Redaktur.

Bagi Jinan mengikuti KKN Internasional bukan semata pencapaian pribadi. Di sisi lain ia mengaku bahwa mengikuti program ini adalah keinginannya. Ia merasa termotivasi karena menyukai tantangan dan dunia global serta dan pengalaman yang tidak biasa. “Saya memberanikan diri untuk mendaftar karena menurut saya ini kesempatan emas” KKN Internasional yang berlangsung dari 23 Juli hingga 22 Agustus 2024 ini menjadi wadah baginya untuk mengembangkan diri dan mengabdi lintas negara. Ia terus menceritakan pengalamannya dengan sedikit nostalgia detik-detik dirinya dikirim Kampus untuk mengikuti KKN bergengsi itu. “Setelah mengikuti opening ceremony di Krabi Thailand saya ditempatkan di Distrik Khuan Kalong bergabung dengan mahasiswa dari berbagai kampus mas, seperti Universitas Muhammadiyah Tangerang, UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Universitas Siliwangi, dan Universitas Lambung Mangkurat dalam program yang difasilitasi oleh Yayasan AECI.”

Di lokasi pengabdiannya, Jinan terkesan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Sekolah dasar di sana sudah memberlakukan sistem full day school hingga pukul 14.00, sedangkan di tingkat taman kanak-kanak anak-anak memiliki waktu tidur siang lengkap dengan peralatan tidur di kelas. Ia juga mencatat budaya disiplin masyarakat Thailand, seperti kebiasaan antri yang tertanam kuat dalam keseharian.

Mengomentari perannya sebagai mahasiswa IAT, Jinan memberikan pesan hangat kepada rekan-rekannya: “Jangan pernah bingung atau menyesal menjadi mahasiswa IAT. Justru IAT membuka banyak ruang pengabdian. Kalian bisa berkontribusi di mana saja karena masyarakat membutuhkan kalian.”

Sebagai peserta, Jinan berharap KKN Internasional dapat terus diselenggarakan setiap tahun dan diperluas jangkauannya. “Kalau bisa, kerja sama dengan Malaysia dan negara ASEAN lainnya segera direalisasikan agar semakin banyak mahasiswa yang bisa merasakan manfaat dan pengalaman luar biasa seperti ini,” ujarnya penuh semangat.

Menurutnya program KKN Internasional bukan sekadar pengabdian tetapi juga perjalanan menembus batas yang mengenalkan mahasiswa UIN SATU pada panggung global dan membuktikan bahwa menjadi mahasiswa IAT tak berarti terkungkung pada batas lokal. Seperti yang ditunjukkan oleh Jinan, peluang ada bagi mereka yang berani melangkah.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content