Mahasiswa IPII PPL di Perpustakaan ITS: Belajar, Berkarya, dan Menikmati Surabaya

Kontributor:

Surabaya, bulan Agustus–Oktober 2025 menjadi pengalaman berkesan bagi sepuluh mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Mereka berkesempatan magang di UPT Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, salah satu perpustakaan kampus bergengsi dengan layanan modern dan reputasi nasional. Program PPL berlangsung sejak 11 Agustus hingga 2 Oktober 2025 dengan sistem pembagian divisi yang membuat para mahasiswa bisa belajar secara merata.

Kesepuluh mahasiswa tersebut adalah Ahmad Syahrur Rozikin, Angela Caesar Putri Perdana, Dewi Candra Wulan, Diva Nabila Maulidiya, Dyana Fajar Oktavia, Febri Anggir Saputra, Muhammad Nasrul Zam-Zami Mubarok, Putri Anggun Rahmasari, Roisul Khoiriah, dan Rangga Heksa Meta. Mereka ditempatkan di berbagai layanan, mulai dari Promosi Perpustakaan, Referensi, Majalah, IDIS, Dr. Angka Corner, IKOMA Corner, Sirkulasi, PPD, hingga Multimedia. Setiap minggu, mereka dirotasi sehingga seluruh mahasiswa merasakan pengalaman di berbagai bidang layanan.

Alasan memilih Perpustakaan ITS cukup menarik. Selain karena ITS merupakan PTN bergengsi di Surabaya, kesempatan ini juga terbuka melalui lowongan resmi yang ditawarkan. Kota Surabaya dengan suasana modern, kuliner melimpah, hingga gemerlap city light semakin menambah semangat para mahasiswa dalam menimba pengalaman.

Banyak manfaat yang didapatkan. Selain ilmu praktis, mahasiswa juga membangun relasi dengan pustakawan yang profesional. Pihak perpustakaan pun merasa terbantu dengan kehadiran peserta magang, sehingga tercipta hubungan saling menguntungkan. Bagi Ahmad Syahrur Rozikin, pengalaman ini semakin berharga karena ia diberi kepercayaan di bidang desain grafis. Karyanya bahkan berhasil masuk dalam akun resmi media sosial Perpustakaan ITS. Ia juga memanfaatkan pengalamannya di dunia percetakan untuk membantu tugas teknis seperti printing, penjilidan, dan pengolahan buku.

Dari sisi implementasi teori hampir semua ilmu perpustakaan yang diperoleh di kelas bisa diterapkan. Meski demikian, banyak pula pengalaman baru yang tidak ditemukan di bangku kuliah. Perpustakaan ITS, misalnya, menggunakan sistem manajemen perpustakaan berbasis inlislite serta pernah mengembangkan sistem internal bernama SPITS. Hal ini memberikan wawasan baru bagi mahasiswa tentang bagaimana sebuah perpustakaan modern dikelola.

Suasana kerja yang hangat juga meninggalkan kesan mendalam. Para pustakawan menyambut mahasiswa magang dengan baik, menyediakan ruang basecamp, bahkan mengizinkan mereka menonton film di ruang mini teater saat tugas telah selesai. Bagi para peserta, magang ini bukan hanya soal menimba ilmu, tetapi juga pengalaman hidup yang membuat mereka lebih siap menghadapi dunia kerja.

“Semua pekerjaan adalah tanggung jawab. Jalani, nikmati, dan pada akhirnya kita akan mendapat manfaat dari setiap proses,” pesan Rozik setelah menyelesaikan magangnya.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content