Mahasiswa TP UIN SATU Dapat Pengalaman Berharga Selama Magang di Dinas P3A Trenggalek

Kontributor:

Trenggalek, 29 September 2025 — Pengalaman magang sering kali menjadi jembatan antara teori dan praktik bagi mahasiswa. Hal inilah yang dirasakan oleh sembilan mahasiswa Program Studi Tasawuf Psikotrapi Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung saat menjalani program magang di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Trenggalek. Kegiatan tersebut berlangsung selama hampir dua bulan, mulai 11 Agustus hingga 30 September 2025.

Selama masa magang, para mahasiswa ditempatkan di dua lokasi berbeda, yakni Rumah Terapi dan Rumah Aman Sementara (Shelter). Melalui penempatan ini, mereka dapat berinteraksi langsung dengan klien yang membutuhkan pendampingan psikologis dan sosial. Salah satu mahasiswi peserta magang, Septiana, menuturkan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, terutama dalam hal memahami kondisi psikologis individu yang memerlukan perlakuan khusus.

“Di sini kami bisa memantau perkembangan klien dari hari ke hari. Rasanya luar biasa karena kami tidak hanya belajar teori, tapi juga melihat langsung proses pemulihan dan perubahan perilaku mereka,” ujar Septiana saat diwawancarai oleh tim redaksi.

Ia menambahkan bahwa suasana magang di Dinas P3A terasa nyaman dan fleksibel, membuat mahasiswa leluasa untuk beradaptasi sekaligus menerapkan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah. “Kami juga menerapkan beberapa pendekatan seperti behavior, tazkiyatun nafs, dan musahabbah. Pendekatan ini membantu kami memahami bagaimana konsep pendidikan dan spiritualitas bisa berpadu dalam terapi,” jelasnya.

Menurut Septiana, pengalaman ini sangat relevan dengan bidang yang mereka pelajari di Teknologi Pendidikan. Ia bahkan memberikan penilaian 9 dari 10 untuk kegiatan magang tersebut. “Kami benar-benar bisa mengamati, meneliti, dan bahkan menerapkan praktik tasawuf dalam konteks terapi. Ini sangat membantu untuk persiapan tugas akhir kami,” tambahnya.

Lebih lanjut, Septiana juga memberikan rekomendasi agar program magang berikutnya tetap berfokus pada Rumah Aman Sementara atau Shelter yang menampung orang terlantar dengan gangguan jiwa. “Kami menyarankan agar ke depan pendampingan psikologis di Shelter terus diperkuat. Dengan bimbingan yang tepat, mereka bisa perlahan sembuh dan kembali berdaya,” tutupnya dengan penuh harap.

Melalui pengalaman magang ini, mahasiswa UIN SATU tidak hanya mengasah keterampilan akademik, tetapi juga menumbuhkan empati sosial dan spiritual. Dinas P3A Trenggalek pun menjadi ruang belajar yang mempertemukan antara ilmu, kemanusiaan, dan nilai-nilai keislaman secara nyata.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content