Tulungagung, 11 November 2025 _ Wacana keilmuan hadis di lingkungan kampus tampaknya semakin bergerak ke arah yang lebih kritis dan multidimensional. Hal ini tampak jelas dalam penyelenggaraan Sekolah Muhadditsin Season 5 di Auditorium Prajnaparamita Lantai 5 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Mengangkat tema “Reinterpretasi Krisis Moralitas melalui Maanil Hadis Berperspektif Feminisme,” forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menandai perubahan cara pandang generasi akademik dalam membaca teks-teks keagamaan.
Di tengah meningkatnya kegelisahan publik mengenai krisis moral di masyarakat—mulai dari ketimpangan sosial hingga kekerasan berbasis gender—kajian hadis kini dituntut untuk lebih adaptif. KH. Husein Muhammad, selaku pemateri utama, menegaskan pentingnya pendekatan maanil hadis sebagai metode pembacaan yang tidak berhenti pada makna tekstual. Dengan memasukkan perspektif feminisme, ia menunjukkan bahwa moralitas tidak berdiri di ruang hampa; ia dibentuk oleh relasi sosial, pengalaman manusia, dan struktur budaya yang terus berubah. Pendekatan seperti ini, menurutnya, mampu membuka cakrawala baru dalam menyusun etika keagamaan yang setara dan humanis.
Pergerseran wacana ini semakin terasa ketika audiens terutama mahasiswa secara aktif terlibat dalam dialog. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bukan sekadar klarifikasi, tetapi memperlihatkan kesadaran kritis mereka terhadap isu kepemimpinan perempuan, kekerasan domestik, dan legitimasi agama yang sering kali bias gender. Meskipun hanya tiga penanya diberi kesempatan karena keterbatasan waktu, dinamika diskusi menunjukkan bahwa mahasiswa mulai menghubungkan studi hadis dengan problem sosial kontemporer, sebuah kecenderungan yang jarang terlihat satu dekade lalu.
Peran Rifqy As’adah Al-Laily. sebagai moderator semakin menguatkan nuansa akademik acara ini. Dengan pendekatan analitis, ia menavigasi percakapan antara tradisi dan pembaruan, memastikan bahwa pembahasan tetap berada dalam koridor ilmiah tanpa mengurangi ruang eksplorasi ide.
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini akhirnya ditutup dengan apresiasi hangat dari peserta. Lebih dari sekadar agenda tahunan, Sekolah Muhadditsin Season 5 memperjelas bahwa kampus kini menjadi arena penting bagi pembaruan wacana hadis. Dengan rencana kehadiran Season 6, harapan publik akademik semakin besar: bahwa tradisi keilmuan Islam terus berkembang menuju ruang yang lebih inklusif, kritis, dan responsif terhadap tantangan zaman.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
