Membangun Budaya Menulis di Era Digital: Pelatihan Academic Writing Mahasiswa Manajemen Dakwah

Kontributor:

Tulungagung, 5 November 2025_ Upaya memperkuat budaya akademik di lingkungan perguruan tinggi kembali terlihat dalam penyelenggaraan Pelatihan Academic Writing oleh Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 5 November 2025 di Gedung AM Meeting Room lantai 2 ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa semester tujuh untuk memperdalam keterampilan menulis ilmiah sekaligus membangun etos keilmuan yang lebih matang. Diikuti oleh puluhan mahasiswa dan sejumlah dosen dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, acara ini berjalan dalam suasana akademik yang serius namun tetap dialogis.

Dibuka oleh Ketua Jurusan Dakwah, Amrullah Ali Mobien, pelatihan ini tidak sekadar menyoroti aspek teknis dalam penyusunan karya ilmiah. Lebih jauh, Amrullah menekankan pentingnya integritas intelektual mahasiswa pada era kecerdasan buatan yang berkembang pesat. Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung, bukan penopang utama yang mengabaikan proses berpikir kritis. “Kalian tidak boleh menyerahkan seluruh proses akademik pada AI. Otak harus tetap bekerja, kreativitas harus tetap diolah,” tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya perhatian serius terhadap risiko menurunnya kemampuan analitis mahasiswa jika seluruh proses penulisan dilakukan secara instan.

Pada sesi inti Syahril Siddik, hadir sebagai narasumber utama. Dengan pendekatan komunikatif, beliau menjabarkan konsep-konsep dasar penulisan akademik yang seringkali menjadi kendala mahasiswa: mulai dari merumuskan masalah, memilih metode penelitian, hingga menjaga etika penulisan agar tetap sesuai standar ilmiah. Syahril juga menekankan bahwa menulis bukan sekadar memenuhi tugas akademik, melainkan latihan intelektual yang membentuk cara berpikir sistematis. Ia memberikan berbagai contoh kesalahan umum yang kerap muncul dalam skripsi mahasiswa dan menawarkan strategi konkret untuk mengatasinya.

Mahasiswa terlihat antusias berdiskusi, terutama mengenai problematika yang mereka hadapi dalam penulisan proposal tugas akhir. Dialog antara pemateri dan peserta menciptakan ruang belajar yang lebih organik, tidak hanya bersifat top-down. Hal ini mencerminkan kesadaran baru bahwa kemampuan menulis membutuhkan latihan berulang dan bimbingan metodologis yang tepat.

Koordinator Program Studi Mutrofin, menutup kegiatan dengan apresiasi terhadap antusiasme mahasiswa. Ia menyampaikan harapannya agar pelatihan seperti ini menjadi tradisi akademik yang berkelanjutan. Melalui penguatan literasi ilmiah, mahasiswa Manajemen Dakwah diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi syarat akademis, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu dakwah di era modern.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content