Di tengah derasnya arus informasi dan budaya instan filsafat sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit jauh dari realita bahkan kurang relevan bagi generasi muda. Namun justru di sinilah peran penting Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang menjadi ruang subur bagi tumbuhnya tradisi berpikir mendalam dan reflektif terutama di kalangan dosen, akademisi, dan mahasiswa.
Fakultas yang menjadi rumah besar ilmu-ilmu dasar keislaman dan kemanusiaan menyimpan potensi luar biasa untuk menghidupkan diskursus filsafat yang kritis namun membumi. Agar filsafat tidak hanya berhenti sebagai mata kuliah wajib yang dilupakan setelah ujian akhir, perlu ada inisiatif untuk membentuk kajian pembelajaran filsafat di tingkat mahasiswa.
Kajian ini bisa menjadi ruang bebas yang terbuka bagi seluruh mahasiswa FUAD lintas prodi baik dari Ilmu Aqidah dan Filsafat Islam, Sosiologi Agama, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, hingga Komunikasi dan Penyiaran Islam. Di sini mereka bisa berdialog lintas perspektif dan membedah pemikiran klasik hingga kontemporer dan mencari benang merah antara gagasan dan realitas sosial hari ini.
Rerata sejauh pengalaman penulis pribadi mengikuti beberapa kajian bahwa kegiatan bisa dikemas secara kreatif dan menyenangkan mulai dari diskusi mingguan, bedah tokoh, kelas penulisan filsafat populer hingga nonton bareng film bertema eksistensial. Filsafat tidak harus selalu berat dan bahwa ia bisa jadi jalan yang menyenangkan untuk memahami diri dengan relasi kita dengan Tuhan. Pemikiran Al-Ghazali, Ibn Rusyd hingga Habermas dan Kierkegaard bisa dibawa ke tengah ruang diskusi sambil mengaitkannya dengan fenomena kekinian seperti perubahan iklim dan krisis spiritual anak muda.
Dengan dukungan dosen-dosen FUAD dan lingkungan akademik yang terbuka organisasi ini bisa menjadi pionir gerakan intelektual mahasiswa di kampus UIN SATU. Ini adalah langkah kecil namun strategis untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis, toleran, dan dialogis di tengah tantangan zaman.
Lebih dari itu, organisasi pembelajaran filsafat bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menemukan makna belajar yang sejati. Bahwa kuliah bukan hanya soal nilai dan skripsi tapi tentang pembentukan cara pandang yang bijak dan bertanggung jawab terhadap hidup. Dan semua itu bisa dimulai dari semangat mahasiswa FUAD untuk membaca, berdiskusi, dan mencari makna secara bersama-sama.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
