Mengenang Jatuhnya Yogyakarta ke Tangan Inggris: HMPS SPI 2025 Agendakan Diskusi Sejarah

Kontributor:

Tulungagung, 12 Juni 2025_ Sejarah bukan hanya tentang masa lalu yang dilupakan tetapi juga tentang bagaimana generasi hari ini memahami dan memaknainya. Inilah semangat yang diusung dalam sebuah diskusi sejarah yang diselenggarakan HMPS SPI UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Diskusi yang diagendakan di Kedai Lawe 3 ini mengangkat tema Jatuhnya Yogyakarta ke Tangan Inggris pada 20 Juni 1812, sebuah peristiwa penting yang sering luput dari perhatian generasi muda.

Diskusi ini membahas tentang jatuhnya Kesultanan Yogyakarta ke tangan pasukan Inggris pada 20 Juni 1812. Serangan tersebut dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang pada saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Inggris di Jawa. Dalam beberapa buku sejarah dijerlaskan bahwa penyerangan ini menandai salah satu titik penting dalam sejarah kolonialisme di Indonesia di mana Yogyakarta yang merupakan pusat kekuasaan budaya dan politik Jawa harus tunduk pada kekuatan asing

Acara ini menghadirkan M. Rafli Firjatullah, mahasiswa SPI sebagai pemateri yang memaparkan dengan detail bagaimana Inggris masuk ke Jawa, tentang apa dan bagaimana serta motif apa yang cicari. Diskusi yang dipandu oleh M. Sabilur Rosyad sebagai moderator ini diikuti oleh setidaknya 25 mahasiswa.  

Menurut keterangan Ketua Pelaksana bahwa tema ini diangkat sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan peristiwa penting yang terjadi pada 20 Juni yang sering terlupakan dalam narasi sejarah populer. “Sebagai mahasiswa SPI kita punya tanggung jawab untuk terus mempelajari dan menghidupkan kembali memori kolektif bangsa,” ungkapnya. Selain itu momentum ini juga menjadi waktu refleksi untuk menggali semangat perlawanan dan perjuangan di masa lalu sebagai bekal membangun masa depan yang lebih sadar sejarah.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme. Materi yang disampaikan tidak hanya berisi data sejarah tetapi juga dihubungkan dengan konteks kekinian seperti bagaimana pengaruh kolonialisme masih terasa dalam berbagai aspek sosial, budaya, dan politik saat ini. Para peserta juga cukup tampak aktif bertanya dan berdiskusi menunjukkan bahwa kegiatan seperti berpotensi menghasilkan dialektika sosial akademik.

Muhammad Sahrul Hakim, Ketua HMPS ketika ditanya oleh Redaktur berharap diskusi seperti ini dapat dikembangkan menjadi forum rutin. “Semoga ke depan ada lebih banyak inovasi yang bisa mendorong mahasiswa sejarah untuk terus berpikir kritis dan menghidupkan diskusi intelektual,” katanya. Diskusi yang sederhana di angkringan ini menjadi bukti bahwa semangat belajar sejarah tidak harus terbungkus dalam forum formal, tetapi bisa lahir dari ruang-ruang kecil yang penuh makna.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content