Menggapai Keutamaan di Bulan Dzulhijjah, Ini 5 Amalan Anjuran Rasulullah

Kontributor:

Bulan Dzulhijjah, salah satu bulan mulia yang di dalamnya menyimpan banyak mutiara dan keutamaan. Banyak hadis yang berbicara tentang betapa mulianya bulan ini. Selain di dalamnya menyimpan banyak kisah islami yang memberikan ibrah kepada umat muslim, bulan Dzulhijjah juga menyimpan cadangan pahala bagi umat muslim. Ada banyak amalan keseharian untuk umat muslim dan bagi sesiapa yang melakukan amalan tersebut artinya pahala sudah menantinya.  

Pertama, memperbanyak puasa di bulan Dzulhijjah. Puasa menjadi satu-satunya amalan ibadah yang pahalanya langsung diberikan Allah Swt kepada hambanya. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa semua ibadah akan diganjar dengan pahala yang setimpal kecuali puasa, karena hanya ibadah puasa yang pahalanya diberikan Allah secara langsung dan itu pasti berlipat ganda. Puasa sunah di dalam bulan suci Dzulhijjah sebetulnya dapat dilakukan di hari pertama hingga ke sembilan, namun dua hari paling dianjurkan Rasulullah puasa adalah di hari Tarwiah dan Arafah.

Puasa Tarwiah, artinya puasa di tanggal delapan Dzulhijjah sedangkan Arafah artinya puasa di tanggal sembilan Dzulhijjah. Setiap Muslim yang puasa di dalamnya mendapatkan janji pahala yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang artinya “Puasa Tarwiah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa dua tahun, tahun lalu dan tahun yang akan datang” (HR. Al Nasa’i). Ini kesempatan besar dan tidak main-main, semoga kita semua dapat melaksanakannya.

Kedua, memperbanyak zikir dan mengingat Allah swt. Rasulullah dalam satu hadis bersabda “Di antara beberapa hari tidak ada hari yang paling agung dan dicintai Allah kecuali hari sepuluh (sepuluh hari di awal Dzulhijjah), maka pada hari itu perbanyaklah membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil” (HR. Al Tabrani). Secara interpretatif Rasulullah tidak hanya memerintahkan umatnya untuk berzikir tapi juga memperbanyak doa karena hari itu termasuk waktu mustajab. Beruntunglah bagi umat muslim yang menyibukkan dirinya  untuk berzikir dan berdoa di waktu itu.  

Ketiga, melakukan ibadah kurban. Kurban di dalam Islam diganti dengan perantara hewan misalnya kambing, sapi, dan onta. Secara filosofis hewan kurban yang dikeluarkan adalah bentuk pengorbanan kepada agama. Ibadah kurban sering diidentikkan dengan ibadah penyempurnaan, di mana tidak semua orang yang mampu mau menyalurkan hewan kurbannya. Dalam satu hadi Nabi Muhammad saw menyabdakan “Seseorang yang menyembelih hewan kurbannya setelah Salat Ied maka kurbannya telah sempurna dan ia telah melakukan kesunatan yang tepat” (HR. Al Bukhari). Menjalankan kurban sudah menjadi pilihan tepat, tapi apa pun itu keikhlasan dalam berkurban tetap diutamakan.

Keempat, melakukan ibadah haji bagi yang mampu. Haji menjadi rukun Islam keenam dan diwajibkan kepada umat Islam yang mampu. Ibadah haji hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun yakni di bulan Dzulhijjah. Semua ibadah haji dan perangkatnya dilakukan di hari-hari penting di bulan Dzulhijjah misalnya Mabit Arafah, Mabit Mina, dan Muzdalifah. Begitu pula dengan lari-lari kecil di Sofa dan Marwah (Baca Sa’i). Semua tempat itu menjadi saksi bisu amalan Nabi Ibrahim As. bersama keluarganya, maka tempatnya menjadi tempat mustajab.

Kelima, memperbanyak sedekah dan amal jariah. Satu amalan yang bukan hanya melibatkan urusan dengan Allah namun juga dengan sosial kemasyarakatan adalah sedekah. Sedekah berarti memberikan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan. Sesuatu yang disedekahkan nantinya akan menjadi tabungan amal di akhirat dan dengan amal itu semua umat muslim memiliki teman hidup. sebagaimana perkataan ulama bahwa sebaik-baik teman di alam kubur adalah amal ibadah, namun amal ibadah di sini bukan hanya amal ibadah yang urusannya hanya dengan Allah namun juga dengan sesama. Maka dengan demikian setiap muslim di bulan-bulan mulia seperti ini disunahkan untuk memperbanyak sedekah dan berbagi kepada sesama.

Semua amalan tersebut dapat dilakukan secara komprehensif dan bertahap. Amalan tersebut dapat dilakukan dengan melihat situasi dan kondisi masing-masing. Hal demikian dikarenakan karena tidak semua muslim mampu mengerjakannya. Misalnya, tidak mungkin orang yang memiliki beban berat untuk melakukan wukuf Arafah untuk melaksanakan puasa Arafah, pun tidak pula orang yang belum memiliki kekuatan untuk pergi haji melakukan wukuf Arafah di bukit Arafah. Islam mengajarkan umatnya bagaimana menjadi hamba yang kafah tanpa perlu memaksakan kehendak syariat.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content