Pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar rutinitas akademik, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan idealisme kampus dengan realitas sosial yang kompleks. Inilah yang dirasakan oleh Nihayatuz Zulva, mahasiswi asal Trenggalek dari Program Studi Psikologi Islam saat terjun langsung dalam program KKN Nusantara 2025.
Ditempatkan di Padukuhan Nglebeng, Kalibawang, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Zulva menapaki pengalaman lintas budaya selama lebih dari satu bulan rencananya kisaran 7 Juli hingga 20 Agustus 2025. Keikutsertaannya dalam KKN Nusantara bukan sekadar penugasan akademik melainkan juga sebuah pengakuan atas kesiapan intelektual dan sosialnya sebagai mahasiswa.
“Saya merasa bersyukur karena kesempatan ini tidak hanya membuka ruang untuk belajar langsung di tengah masyarakat lintas budaya, tetapi juga menjadi pengakuan atas kesiapan akademik dan sosial saya sebagai mahasiswa,” ujar Zulva.
Dalam program tersebut Zulva berperan aktif dalam perencanaan dan implementasi program pemberdayaan masyarakat. Ia memilih fokus pada isu harmonisasi keagamaan dan budaya sebuah pendekatan yang selaras dengan disiplin ilmunya di Psikologi Islam. Baginya membangun narasi keberagamaan yang inklusif menjadi sangat penting, terutama dalam konteks masyarakat multikultural seperti yang ditemuinya di Kulon Progo.
“Sebenarnya tidak ada tantangan yang berat, hanya saja perbedaan cara pandang terhadap nilai-nilai sosial, bahasa sehari-hari, hingga pendekatan keagamaan menuntut saya untuk benar-benar hadir secara reflektif dan terbuka,” jelasnya. Di samping itu, keterbatasan akses internet dan sarana komunikasi menjadi tantangan teknis yang harus diatasi secara kolektif bersama tim.
Pengalaman lapangan ini kian bermakna karena Zulva dapat mengintegrasikan berbagai keterampilan yang telah ia kembangkan sebelumnya. Kemampuan komunikasi, penulisan laporan, pembuatan konten media informasi, serta pendekatan observatif menjadi bekal utama dalam berinteraksi dan mengadvokasi program di tingkat masyarakat. Pendekatan partisipatif yang ia gunakan memperlihatkan sensitivitasnya terhadap dinamika lokal.
Ia meyakini bahwa keterpilihannya dalam program ini bukan semata-mata karena prestasi akademik, tetapi juga karena rekam jejak keterlibatan sosial yang telah ia bangun melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Kepekaan terhadap lingkungan sosial dan kemampuan menyampaikan gagasan secara artikulatif menjadi nilai lebih yang memperkuat perannya di lapangan.
Melalui pengalaman ini Zulva tak hanya hadir sebagai mahasiswa yang mengabdi tetapi juga sebagai mediator nilai-nilai keislaman yang humanistik dan transformatif. KKN Nusantara 2025 menjadi panggung penguatan kapasitas pribadi sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat. Pengalaman ini, menurutnya akan terus menjadi pijakan dalam perjalanan akademik maupun sosialnya ke depan.
Dengan semangat inklusi dan keberagaman, Zulva menunjukkan bahwa psikologi Islam bukan hanya studi teoritis, tetapi juga alat reflektif untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara empatik dan konstruktif.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
