Di tengah arus modernitas yang menuntut produktivitas tanpa henti, wacana mengenai posisi perempuan dalam kehidupan publik dan domestik terus berkembang dan menjadi diskusi yang tak pernah usang. Salah satu suara yang menyumbangkan perspektif segar dan humanis dalam wacana ini adalah Dr. Dzinnun Hadi, M.Pd., Sekretaris Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Dalam forum “Bincang-Bincang Wanita Karir” yang diselenggarakan oleh Jurusan Dakwah FUAD UIN SATU dan disiarkan langsung melalui SATU TV Dzinnun mengajak para peserta dan pemirsa untuk memandang peran perempuan dengan sudut pandang baru. Ia menolak paradigma usang yang memaksa perempuan memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier. Menurutnya perempuan bukan makhluk satu dimensi yang hanya bisa menunaikan satu tugas. Ia memiliki ruang berpikir, perasaan, dan keyakinan yang menjadikannya utuh sebagai pribadi dan makhluk sosial.
“Ini bukan soal memilih, tapi soal mengelola amanah,” tegasnya. Amanah dalam konteks ini bukan hanya pekerjaan domestik atau profesional semata tetapi bagaimana perempuan memaknai tanggung jawabnya dengan ikhlas dan bertanggung jawab. Kesalehan sosial perempuan menurutnya tidak diukur dari di mana ia beraktivitas melainkan bagaimana ia menjalankan peran tersebut dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Pandangan ini juga terwujud dalam kehidupan pribadinya. Pak Dzinnun sapaan akarab mahasiswa kepadanya menyebut bahwa istrinya adalah seorang perempuan bekerja saat mereka bertemu dan kondisi tersebut justru menjadi fondasi komitmen bersama. Ia memaknai relasi sebagai ruang dinamis yang membutuhkan kepekaan dan kesalingan. Menurutnya dalam relasi sehat peran mencintai dan dicintai dapat berganti-ganti sesuai kebutuhan dan kondisi tanpa harus ada klaim siapa yang paling berkorban.
Pandangan egaliter juga terlihat saat ia menanggapi anggapan bahwa wanita karier sebaiknya memiliki pasangan dengan karier lebih tinggi. Ia menilai pemikiran semacam itu hanyalah ekspektasi sosial yang bisa menjebak dan memunculkan penderitaan. Baginya keberhasilan relasi bukan soal siapa yang lebih hebat tetapi apakah keduanya bisa saling memahami dan tumbuh bersama.
Tak lupa Dzinnun mengkritisi tekanan sosial terhadap perempuan modern agar menjadi superwoman sukses, sempurna, dan serba bisa. Ia mengingatkan bahwa pencapaian sejati seorang perempuan adalah saat ia merasa cukup dan selesai dengan dirinya sendiri. Kemenangan seorang perempuan terletak pada penerimaan diri bukan pada pengakuan eksternal semata.
Tulisan ini merefleksikan gagasan Dzinnun Hadi yang mengedepankan penghormatan terhadap pilihan hidup perempuan dan perlunya membangun sistem dukungan agar perempuan dapat berkembang tanpa harus kehilangan identitasnya. Dalam dunia yang kerap menuntut kesempurnaan suara seperti ini sangat penting: suara yang merayakan perempuan bukan karena performa tetapi karena ketulusan dan kesetiaannya pada amanah hidup.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
