Pendampingan Sosiopsikologi UIN SATU Tulungagung di LAPAS Kediri: Kolaborasi Akademik untuk Kesejahteraan Sosial

Kontributor:

Kediri, 14 November 2025_ Dua dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Ucik Ana Fardila dan Dian Pratiwi Pribadi kembali melaksanakan program asesmen sosiopsikologi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pendampingan yang telah mereka lakukan selama dua tahun terakhir sebagai implementasi tridharma perguruan tinggi khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.

Program pendampingan ini bukan kegiatan tunggal melainkan rangkaian asesmen yang telah dilakukan di berbagai LAPAS di Pulau Jawa. Sebelum di LAPAS Kediri, asesmen serupa dilaksanakan di LAPAS Perempuan Kelas IIB Malang dan LAPAS di Bandung, Jawa Barat pada bulan sebelumnya. Pada semester lalu keduanya juga menyelesaikan pendampingan di LAPAS Kelas IIB Tulungagung. Konsistensi ini menunjukkan komitmen UIN SATU Tulungagung dalam menjalin hubungan konstruktif antara perguruan tinggi, lembaga pemasyarakatan, serta komunitas pendamping profesional.

Program ini terselenggara berkat kerja sama berbagai lembaga, termasuk NGO Forum Pengada Layanan Jakarta serta tim Psikologi Klinis Ngudi Waluyo Blitar. Dalam kegiatan pendampingan hadir pula Bu Yeni Rofiqoh, ahli psikologi klinis yang secara rutin mendampingi setiap asesmen. Keterlibatan tenaga profesional ini memperkuat aspek metodologis dan etis dalam interaksi dengan warga binaan sekaligus menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa.

Asesmen di LAPAS IIA Kediri terasa istimewa karena keterlibatan 17 mahasiswa dan alumni Program Studi KPI UIN SATU Tulungagung. Menurut Ucik, Dosen KPI, para mahasiswa dan alumni tersebut merupakan kelompok terpilih dengan capaian akademik terbaik di angkatannya. Pelibatan mereka tidak hanya memberi ruang praktik lapangan tetapi juga memperkuat perspektif humanis dalam memahami problematika sosial warga binaan.

Citra, salah satu mahasiswi semester 3 yang terlibat mengaku awalnya membayangkan suasana LAPAS sebagai lingkungan yang menegangkan. Namun kesan itu berubah ketika ia melihat kondisi lapangan yang jauh dari bayangannya. Begitu pula dengan Rizal, mahasiswa satu-satunya yang menjadi peserta pendamping, menyatakan bahwa pengalaman ini sangat berkesan dan berharap dapat mengikuti program lanjutan termasuk magang.

Melalui program ini dosen dan mahasiswa UIN SATU Tulungagung berharap semakin banyak perguruan tinggi turut berperan aktif menyelenggarakan kegiatan serupa di lembaga pemasyarakatan. Pendampingan yang berkelanjutan diyakini dapat memberikan kontribusi nyata menuju kesejahteraan sosial yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk bagi warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content