Tulungagung, 01 Juli 2025_ Dalam rangka meningkatkan kapasitas keilmuan dan memperluas jejaring akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Dakwah Wal-Irsyad Maros, Sulawesi Selatan menggelar kegiatan student mobility dan benchmarking di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Salah satu agenda penting dalam kunjungan ini adalah keikutsertaan mereka dalam Seminar Nasional FORMASIK yang mengangkat tema “Peluang dan Tantangan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.
Bertempat di Gedung Prajna Paramita lantai 5 acara ini dipandu oleh Dr. Lutfi Ulfa Niamah, M.Ag sebagai moderator. Tiga narasumber hadir membagikan perspektif berharga tentang peran dan prospek alumni PTKI dalam dinamika sosial keagamaan kontemporer.
Dr. Khoiruddin M., salah satu pemateri utama menyampaikan makalah bertajuk “Konsep Hukum dalam Al-Qur’an: Integrasi Kemanusiaan dan Keadilan”. Ia menekankan bahwa hukum Islam tidak semata-mata berbicara soal legal formal tetapi juga menyentuh aspek batiniah manusia. Dalam paparannya ia menyinggung kisah Siti Hajar dalam pencarian air zam-zam yang kerap diragukan kaum orientalis. “Bahkan ada yang menuduh Siti Hajar hanya sedang mencari muka di hadapan Allah,” ujarnya. Padahal menurut beliau narasi tersebut adalah simbol kekuatan spiritual dan perjuangan kemanusiaan perempuan dalam sejarah Islam.
Lebih lanjut, ia menguraikan tiga pilar konsep manusia dalam Al-Qur’an yakni aspek Biologis tata kehidupan jasmani manusia, spiritual tentang aspek relasi manusia dengan Tuhan, keseimbangan meliputi integrasi antara keadilan dan kemanusiaan sebagai asas moral dalam hukum Islam.
Sementara itu Abdurrahman Shiddiq, M.Pd, pemateri kedua mengajak peserta seminar untuk tidak melupakan akar budaya lokal. Menurutnya masyarakat Makassar hidup berdampingan dalam ragam bahasa, seperti bahasa Makassar, Bugis, dan Dentong. Bahkan dahulu bahasa Maros diajarkan dua jam setiap minggu. “Setiap kecamatan punya dialek khas, hasil dari dinamika sejarah masa kolonial,” jelasnya. Ia juga menyebut keberadaan aksara lontar sebagai warisan literasi lokal yang perlu dilestarikan. “Anak muda sekarang harus bangga dan memahami bahasa daerahnya, karena itu bagian dari identitas,” tambahnya.
Di sesi terakhir, Rizal, M.Pd, menyoroti peran generasi Z dalam menjaga nilai-nilai tradisional tanpa kehilangan relevansi zaman. Beliau membagikan dan menjelaskan sejumlah tradisi keagamaan seperti membaca doa ketika memasuki rumah atau menyambut Ramadan yang hidup di masyarakat dan tidak bisa serta merta dianggap sebagai praktik musyrik. Setidaknya ia berpesan kepada peserta seminar khususnya mahasiswa tentang tiga hal. Pertama, manfaatkan potensi diri untuk kegiatan yang bermanfaat. Kedua, berdakwah lewat media sosial dengan konten positif. Ketiga, gunakan aplikasi digital sebagai sarana untuk membawa kebermanfaatan lebih luas di era teknologi.
Kegiatan ini bukan sekadar forum ilmiah melainkan juga ruang silaturahmi dan tukar gagasan antar mahasiswa dan dosen dari dua wilayah berbeda. Semangat student mobility dan benchmarking yang diusung STAI DDI Maros dan bekerja sama dengan UIN SATU Tulungagung menjadi langkah nyata dalam membangun jaringan dan kualitas pendidikan tinggi Islam yang berdaya saing tanpa melupakan akar kultural dan spiritualitas lokal.
Penulis: Ahmad Misbakhul Amin
