Ziarah Wali Songo sebagai Laboratorium Dakwah: Penguatan Pembelajaran Berbasis Pengalaman bagi Mahasiswa Manajemen Dakwah

Kontributor:

Jawa Tengah_ Perjalanan akademik mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ke makam-makam Wali Songo pada Ahad, 14 Desember 2025, menghadirkan bentuk pembelajaran yang berbeda dari perkuliahan konvensional. Alih-alih belajar di ruang kelas, mahasiswa diajak terjun langsung ke medan dakwah historis, menjadikan ziarah sebagai experiential learning yang mempertemukan teori dengan realitas lapangan.

Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari mata kuliah Kepariwisataan Islam dan Media Dakwah, namun jauh melampaui pemahaman tekstual. Melalui program ini, mahasiswa mempelajari bagaimana dakwah para wali bekerja dalam konteks sosial-budaya pada zamannya. Mereka tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi mengevaluasi bagaimana strategi dakwah kultural Wali Songo tetap relevan menghadapi tantangan dakwah masa kini.

Para dosen Manajemen Dakwah berperan aktif sebagai pembimbing lapangan. Namun, yang menarik, mahasiswa diberi mandat sebagai tour rider, yakni pemandu perjalanan yang bertanggung jawab penuh atas informasi, narasi sejarah, dan etika ziarah. Peran ini mendorong mahasiswa untuk menguasai materi, berkomunikasi efektif, serta mengelola perjalanan dengan profesional. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi ruang praktik yang mengasah kemampuan kepemimpinan, komunikasi publik, dan manajemen acara.

Destinasi yang dikunjungi meliputi makam Sunan Japes, Sunan Kudus, Sunan Raden Fattah, dan Sunan Kalijaga empat figur penting dalam sejarah dakwah Nusantara. Di setiap lokasi, mahasiswa diminta menyampaikan ulasan tentang strategi dakwah para wali, menyoroti pendekatan kultural yang damai, adaptif, dan menghormati tradisi lokal. Nilai-nilai dakwah semacam ini menjadi bahan refleksi, terutama di era ketika metode penyampaian pesan keagamaan semakin beragam dan kompleks.

Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi. Para peserta mengikuti seluruh agenda, mulai dari persiapan keberangkatan, pembekalan teknis, hingga pelaksanaan ziarah, dengan kedisiplinan yang baik. Lebih dari aspek akademik, pengalaman lapangan ini memberikan pelatihan karakter: mahasiswa dilatih untuk bekerja dalam tim, mengambil keputusan cepat, serta memastikan perjalanan berlangsung tertib dan sesuai nilai-nilai keislaman.

Pada akhirnya, perjalanan ziarah ini bukan hanya menghadirkan pengalaman religius, tetapi juga membentuk kompetensi profesional. Mahasiswa Manajemen Dakwah diharapkan mampu mengambil pelajaran berharga dari kegiatan ini untuk mengembangkan kapasitas sebagai pemandu wisata religi yang kompeten, komunikatif, dan visioner. Lebih jauh, pengalaman ini memperkuat identitas mereka sebagai calon agen dakwah yang memahami bagaimana spiritualitas, budaya, dan manajemen dapat berjalan seiring dalam melayani kebutuhan masyarakat modern.

Penulis: Ahmad Misbakhul Amin

Skip to content